Skip to main content

Posts

What a Year Has Taught Me

At the first time when I taught about what happiness means, it always gonna be, "It would be really amazing when things always go right." not because it's just always happiness that we feel, not always a blooming flowers that we see from afar, or just a warm jasmine tea that we always drink when it's a fully rainy day. When it comes to the time when I think about what happiness means, I always get a different meaning and perspectives.  When it came to my arrival at home in the last October, I was very ready to go back to my childhood memory, to go every side of this small city, to feel the breeze in the morning and every evening, to go to every places that has already been part of my childhood memories. Memorizing and reminiscing the feel when it comes to laugh hard with old friends, when it goes to do gardening with mom and harvesting her plants also comes to go a long night ride with my father. At that time, what happiness means to me was redoing every part of my ch...
Recent posts

Pulang ke Rumah

Foto ini diambil di Yogyakarta pada 26 November 2018 Semakin beranjak usiaku, semakin banyaknya hari yang telah aku jalani, dan peristiwa yang aku alami, definisi rumah untukku selalu berubah-ubah dan akhirnya semakin sulit untuk menemukan makna rumah itu sendiri. Perihal yang paling sederhana seperti bentuk rumah dan segala perabotannya, atau perihal jauh dekatnya jarak yang ditempuh untuk bisa mencapainya, waktu yang dihabiskan entah berapa menit atau berapa jam, bahkan sampai hal yang berat seperti kesiapan untuk jauh dari rumah itu sendiri. Kadang aku merasa bingung dan kemudian terdiam dalam waktu yang lama. Megingat kembali hamper sepuluh tahun yang silam, untuk menjadikan kata pulang ke rumah adalah sebuah makna yang sangat mudah untuk digapai dan direalisasikan. Pulang dari sekolah, pulang dari les piano dan les bahasa Inggris, dalam waktu singkat dan sekejap selalu bisa untuk sampai di rumah. Menunggu Bapak menjemput kala waktu sekolah dan les sudah habis, terkadang...

gracias

Dari: Rifdani Z. Untuk: R. Zitananda Zita, terima kasih. Telah menjadi seseorang yang lebih kuat dari dirimu yang sebelumnya, yang telah bisa mematahkan stereotip bahwa wanita tetap harus memiliki pendamping dalam setiap perjalanannya. Untukmu yang telah berjalan dan berlari di atas kakimu sendiri, bertanggung jawab atas segala resiko atas pilihanmu. Menjalani segala proses pendewasaan diri dengan tidak mudah. Lelah memang, ingin menyerah rasanya, tapi kamu selalu dan senantiasa mengingatkan dirimu sendiri, “Kalau bukan aku sendiri, terus siapa lagi?” Terima kasih karena akhirnya bisa memberikan diriku kesempatan untuk bisa melihat dunia dengan kacamata yang berbeda. Mendapati banyak segala hal berbeda yang sejatinya tidak perlu untuk kamu cela dan kritik, namun cukup untuk mengerti dan menerima. Terima kasih untuk tetap berjalan dengan segala prinsip yang kamu pilih. Terima kasih untuk membiarkan aku bisa berteman dan berkenalan dengan siapa saja tanpa memandang agama...

Pulang

Pulogadung, 31 Agustus 2018 Woh ini blog udah usang banget pasti. Berapa bulan aku ngga ngeblog ya? Genap 3 bulan kayaknya karena berhubung ini tanggal 31 Agustus dan terakhir aku post tulisan terakhirku adalah tanggal 1 Juni kemarin. Sudah banyak berdebu dan pasti kotoran menjijikkan lainnya. Semoga ngga dijaga sama benda ataupun makhluk ghaib lainnya. Seminggu yang lalu aku baru saja pulang. Pulang. Ke. Rumah. Jumat malam berangkat dari Jakarta lalu Minggu siangnya langsung balik lagi ke Jakarta. Banyak yang bilang, "Ngapain sih pulang? Hanya tiga hari, itupun juga ngga full tiga hari." Tapi aku diemin aja, atau ngga balas dengan bercandaan karena saat kuliah semester 1 pun aku juga sering sekali pulang, hampir sebulan sekali aku pulang, hanya saja karena semester 2 aku kuliah dari hari Senin sampai hari Sabtu, kesempatan untuk pulang itu minim sekali atau bahkan tidak ada sama sekali. Buatku ngga ada kata tanggung untuk bertemu dengan keluarga. Ngga ada wak...

Legowo

Bintaro, 1 Juni 2018 Kehidupan perkuliahanku ngga pernah lepas dari yang namanya berlayar dari satu tugas ke tugas yang lain, presentasi, kuis dadakan, mau kuliah ngga dapet ruangan, udah lari-lari dikirain bakal telat tapi ternyata dosen malah belom dateng dan part yang paling ngeselin adalah kuliah jam 7 tapi jam 6 belum mandi dan masih goler-goler di kasur sampe jam 6.30 dan merasa diambang kebimbangan antara apakah mandi dulu, bab dulu, atau langsung cus ke kampus tanpa mandi. Gila. Ada yang ngga beres sama ini badan. Dan yang mengoperasikan ini badan tentunya. Perubahan pertama yang aku rasakan begitu hampir setahun merantau di Jakarta (Plis Bintaro kan mepet Jakarta, jadi anggep aja Bintaro masih bagian dari Jakarta, wakau sebenernya engga) adalah jadi seneng ngomong lu-gua bahkan sama temen se-organda sendiri. Gua aja heran. Nah lo. Keluar kan lu-gua nya hahaha. Lalu selama berbulan-bulan aku ngga publish tulisan di blog adalah karena salah satunya aku in...

Fakir Ilmu

Assalamualaikum teman-teman. Wah sudah lama sekali aku ngga menulis di sini. Ayo kita  bersama-sama bersih-bersih blog yang berdebu dan penuh jamur ini hehehe. Sepertinya di postingan sebelumnya tentang Balada Mimpi-mimpi Zita (buat teman-teman yang belum baca, bisa baca  di sini ya) aku sudah berjanji (ngga berjanji juga sih, tapi kalau sempat untuk menulis aja hahaha) untuk menuliskan tentang pengalamanku mengikuti salah satu pendaftaran salah satu perguruan tinggi kedinasan, yaitu USM PKN STAN. Nah, setelah balada-balada USM yang katanya susah dan ternyata setelah dijalani ternyata memang susah, karena waktu itu daftar USM murni karena disuruh oleh orang tua, jadi daftar aja dan yaudah belajar dalam waktu yang mepet banget (hahaha ngga nyambung sama konteks sebelumnya ya). Bilangnya buat jaga-jaga kalau memang mutlak ngga diterima di PTN (atau PTS). Tapi nyatanya, daftar USM PKN STAN aja dari awal sudah butuh perjuangan dan sudah bikin capek, pemirsa. ...

Balada Mimpi-mimpi Zita

Sekitar sebulan yang lalu akhirnya aku resmi lulus SMA. Rasanya? Wah, senang, sedih, terharu semuanya campur jadi satu. Kegembiraan untuk akhirnya akan  menjadi mahasiswa, kata “maha” yang berarti aku sudah harus bisa lebih baik daripada menjadi siswa, dan yang berarti adalah tingkat tertinggi dari menjadi siswa. Sedih? Aku cukup sedih Karena harus meninggalkan teman-teman, sekolah yang aku entah kenapa nggga pernah bosan untuk berada di sana, 12 tahun sekolah di bawah yayasan yang sama, dari SD-SMA yang sebenarnya ya teman-temannya kebanyakan ya itu-itu saja, tapi aku ngga pernah bosan! Guru-guru yang baik, mereka yang sangat pengertian dan kadang iklas untuk direse-in, ngga tahu lagi akan menemukan guru seperti mereka di mana lagi. Terharu? Wah, ngga bisa dibayangin, kelas 12 men, kami yang istilahnya dispesialkan, diistimewakan dan mungkin yang paling banyak memenuhi pikiran guru-guru, digenjot habis-habisan, diforsir tenaga, jam tidur, otak, dan uang jajannya untuk mengikuti ...