Skip to main content

Pulang ke Rumah

Foto ini diambil di Yogyakarta pada 26 November 2018



Semakin beranjak usiaku, semakin banyaknya hari yang telah aku jalani, dan peristiwa yang aku alami, definisi rumah untukku selalu berubah-ubah dan akhirnya semakin sulit untuk menemukan makna rumah itu sendiri. Perihal yang paling sederhana seperti bentuk rumah dan segala perabotannya, atau perihal jauh dekatnya jarak yang ditempuh untuk bisa mencapainya, waktu yang dihabiskan entah berapa menit atau berapa jam, bahkan sampai hal yang berat seperti kesiapan untuk jauh dari rumah itu sendiri. Kadang aku merasa bingung dan kemudian terdiam dalam waktu yang lama. Megingat kembali hamper sepuluh tahun yang silam, untuk menjadikan kata pulang ke rumah adalah sebuah makna yang sangat mudah untuk digapai dan direalisasikan. Pulang dari sekolah, pulang dari les piano dan les bahasa Inggris, dalam waktu singkat dan sekejap selalu bisa untuk sampai di rumah. Menunggu Bapak menjemput kala waktu sekolah dan les sudah habis, terkadang aku membeli jajan dahulu sembari menunggu dijemput, terkadang malah sempat untuk lupa dijemput, terkadang sengaja dijemput terlambat karena aku terkadang suka terlambat juga untuk keluar kelas . Alhasil kemudian jajan yang sudah aku beli langsung aku makan selagi masih hangat. Jika direka ulang kembali ketika masih kecil, rasanya arti pulang ke rumah itu mudah sekali untuk bisa dilakukan. Aku mengingat kembali, “Menjadi dewasa berarti kamu bisa untuk menjalani hal sulit bahkan menjadi mudah.”

Semasa kuliah, saat pertama kali jauh dari rumah yang mana harus menempuh waktu lima jam perjalanan dengan kereta dan sekitar dua jam dengan naik KRL menjadikan definisi rumah semakin sedikit jauh. Rumah itu sebenarnya seperti apa? Semakin jauh dari rumah, jauh dari kota kelahiran, semakin singkatnya atau rumitnya waktu yang dihabiskan di rumah, makna rumah itu perlahan bergeser menjadi teman-temanku semasa kuliah dan menjadi kos di mana aku habiskan waktu tidur dan makan, bahkan kamar kecilku yang merangkap sebagai dapur pula (karena tidak ada dapur) menjadikan aku terbiasa untuk hidup di ruang persegi kecil itu. Jalan-jalan kecil, gang-gang Kalimongso yang tiada akhir, yang menjadikan rute jalan tersebut akhirnya tertangkap di pikiranku bahwa  inilah langkah-langkah yang aku lewati untuk kembali ke ruang kecilku. Satu tahun aku menemukan makna rumah adalah sudut kecil itu di sebelah Masjid A-Nur, di dalam lingkup kecil Jurang Mangu, yang sangat sepi, yang saat masuk ke sana, setiap langkah kaki dan mobil berjejer adalah sebuah pemandangan yang tidak asing.

Setahun merasakan hiruk pikuknya Jakarta dan Bintaro, tanpa adanya perasaan apapun yang tumbuh selain hanya mencoba mencintai Jakarta itu sendiri dan hanya menfokuskan diri dan dengan sendirinya aku terfokus dengan masa kuliah itu sendiri, bahkan tidak pernah sedikit pun terbesit pikiran lain selain harus lulus dengan baik rupanya adalah perasaan yang aku rindukan saat ini. Pikiran dan perasaan yang hanya terfokus  untuk mengembangkan diri sendiri dan mencoba mengenal lingkungan baru, sekarang selalu terbesit dalam benakku selama pulang kantor saat melewati jalanan ramai, atau saat mengunjungi pantai di sini, atau hanya sekedar jalan sore mengelilingi komplek perumahan, dan atau saat sedang kelas yoga, “Kapan ya, aku bisa lagi untuk tidak memikirkan siapapun dan apapun dan tidak merisaukan hal-hal lain selain diri sendiri? Apakah semakin banyaknya umur semakin membuat kita banyak memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita pikirkan? Apakah menjadi dewasa adalah berarti semakin dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang sejadinya saat kita kecil, pikiran-pikiran itu tidak pernah menghampiri kita?”

Setelah berangsurnya waktu, saat aku kala itu berkomitmen dengan seseorang, makna rumah itu sendiri perlahan bergeser menjadi dirinya yang pada saat itu menjadi tempat penampung segala risau dan gundah. Rumah pada saat itu adalah menjadi tempat pulang ternyaman sebab segala dan semua rasa bermuara menjadi satu. Sebab kala itu rumah adalah ia yang tanpa sengaja dan dengan sendirinya telah menjadikan terciptanya frekuensi yang sama dan menuju arah mata angin yang searah. Sampai kemudian sosoknya pergi dan kami memutuskan untuk berjalan menuju arah yang berbeda, makna rumah kemudian perlahan bergeser kembali. Ini lebay tapi itulah yang terjadi.

Dalam setahun terakhir arti rumah selalu berganti dan berjalan dengan rodanya yang selalu berputar. Makna rumah kala sepuluh tahun yang lalu adalah tempat aku selalu melihat wajah orangtua, tempat ditujunya sebuah bangunan kecil di selatan kota dan di sanalah aku tumbuh menjadi gadis kecil yang luar biasa dekil dan menjadikan aku gatal-gatal saat main di sungai. Dari hari-hari itu, aku bisa rasakan hal-hal menyenangkan yang anak-anak seumuranku juga rasakan. Bermain petak umpet dan berlari kencang saat kemudian tempat persembunyianku ketahuan, menjadi seorang anak dan bergantian menjadi seorang ibu saat bermain masak-masakkan dan ibu-ibuan, dan banyak lagi kenangan masa kecilku yang membuat aku tumbuh di sana.

Tapi itu bukan jadi yang pertama sekarang. Tidak untuk saat ini. Bahkan saat aku menulis ini, makna rumah itu sendiri juga masih berputar layaknya memiliki orbit seperti planet. Namun, satu hal yang kemudian membuatku dan membawaku akhirnya menuju pada definisi dan makna ini adalah karena semakin jauhnya aku dari kedua orangtuaku berada. Tentang semua definisi dan makna yang diciptakan atas rumah itu sendiri, atas pengisi dari hiruk pikuknya bangunan kecil itu, dan semua hal yang kemudian membawa aku terbang menuju definisi rumah. Bahkan tidak peduli bila nanti letak bangunan rumah itu pindah, selalu ada mereka yang mengisi tentang di mana tempat baru, lama, bahkan sekarang. Bahkan saat semakin jauhnya jarak kami, atau semakin dekat, atau mungkin masih harus seperti ini, tidak peduli di mana, bahkan mungkin nanti berpindah atau menetap, rumah itu sendiri adalah tempat di mana kami bersama. Walaupun terdapat banyak sekali kekurangan dan kami bukanlah keluarga yang sempurna, bahkan jauh dari kata sempurna dan jauh dari seperti yang orang-orang ceritakan tentang sebuah definisi keluarga sempurna dan bahagia, dengan ini sekarang sudah lebih dari kata cukup untukku.


Ah, aku ingin pulang menuju rumah.

Comments

Popular posts from this blog

What a Year Has Taught Me

At the first time when I taught about what happiness means, it always gonna be, "It would be really amazing when things always go right." not because it's just always happiness that we feel, not always a blooming flowers that we see from afar, or just a warm jasmine tea that we always drink when it's a fully rainy day. When it comes to the time when I think about what happiness means, I always get a different meaning and perspectives.  When it came to my arrival at home in the last October, I was very ready to go back to my childhood memory, to go every side of this small city, to feel the breeze in the morning and every evening, to go to every places that has already been part of my childhood memories. Memorizing and reminiscing the feel when it comes to laugh hard with old friends, when it goes to do gardening with mom and harvesting her plants also comes to go a long night ride with my father. At that time, what happiness means to me was redoing every part of my ch...

Terus Belajar

Pengalaman adalah guru terbaik Alhamdulillah tanggal 14-16 Maret 2016 kemarin kami semua sukses mengadakan acara PLM yang memang dirancang sebagai program khusus tahunan. Kalau dipikir-pikir acara-acara seperti ini harusnya dilakukan tiap hari saja //HMMM// agar lelah itu bisa terasa sangat menyenangkan. Karena seperti aku, anak yang lebih suka bermain di luar, ketika tiba-tiba disuruh belajar di dalam ruangan tanpa camilan dan mainan kemudian hanya diberi buku dan soal latihan, lebih baik duduk selonjoran sambil mendengarkan lagunya Ed Sheeran. Yang ada bukannya selesai belajar, malah lebih cepat tertidur pulas (Tapi lagu-lagu Ed Sheeran overall favoritku semua kok). Jadi, seperti postingan PLM tahun lalu (yang belum baca bisa cek di sini ya  http://zitarifdani.blogspot.co.id/2015/03/that-i-had-best-day.html  ) acara PLM tahun ini juga alhamdulillah masih tetap sama, ada SMAIT Mengajar, sembako murah (atau gratis ya?), memasak, bazar pakaian pantas ...

I Had The Best Day

Jadi, tanggal 9 sampai 11 Maret 2015 kemarin di Karangrau Banyumas, tepatnya hari Senin sampai Rabu, aku dan teman-teman kelas 10 dan kelas 11 mengikuti kegiatan PLM atau singkatan dari Pengenalan Lingkungan Masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan pas kakak-kakak kelas 12 menjalani UAS (eh apa US ya?)(Bedanya apa toh? Aku nda ngerti). Karena di postingan sebelumnya aku belum mengorek sedikitpun tentang kegiatan ini, soalnya kan postingan kemarin aku bikin puisi galau gitu yang sebenarnya aku pun masih mikir apa sih manfaatnya? HAHA Anyone feel me. Tapi ngga apa-apa kok, kan namanya berkarya, dalam keadaan apapun aku selalu write them down, all of them, mau itu sedih, senang, atau pun flat. . . Jadi kembali lagi. . . Kalo postingannya dibuat berjeda-jeda bikin penasaran ngga . . Haha, jangan kzl ya . . Nah, ada beberapa kegiatan di acara PLM ini. Buat yang putri itu mengajar dan memasak, terus buat yang putra itu bangun rumah. Dan aku kebagian kegiatan me...