Dari: Rifdani Z.
Untuk: R. Zitananda
Zita, terima kasih. Telah menjadi seseorang yang lebih kuat dari
dirimu yang sebelumnya, yang telah bisa mematahkan stereotip bahwa wanita tetap
harus memiliki pendamping dalam setiap perjalanannya. Untukmu yang telah
berjalan dan berlari di atas kakimu sendiri, bertanggung jawab atas segala
resiko atas pilihanmu. Menjalani segala proses pendewasaan diri dengan tidak
mudah. Lelah memang, ingin menyerah rasanya, tapi kamu selalu dan senantiasa
mengingatkan dirimu sendiri, “Kalau bukan aku sendiri, terus siapa lagi?”
Terima kasih karena akhirnya bisa memberikan diriku kesempatan
untuk bisa melihat dunia dengan kacamata yang berbeda. Mendapati banyak segala
hal berbeda yang sejatinya tidak perlu untuk kamu cela dan kritik, namun cukup
untuk mengerti dan menerima. Terima kasih untuk tetap berjalan dengan segala
prinsip yang kamu pilih.
Terima kasih untuk membiarkan aku bisa berteman dan berkenalan
dengan siapa saja tanpa memandang agamanya, warna kulitnya, seperti apa
penampilannya, bagaimana mereka menjalani hidupnya, bahkan segala sisi positif
dan negatifnya. Kamu membuat aku mengerti bahwa perdebatan pasti ada, selalu
ada orang-orang yang belum mengerti situasi apa yang pas untuk bercanda ataupun
untuk sungguh-sungguh, begitu pula kamu. Tapi kamu selalu membuat aku yakin
bahwa manusia pasti berproses.
Terima kasih untuk tetap membuatku berani untuk bersuara di saat
yang lain kadang tidak bisa menerima, di saat semua orang berusaha untuk tutup
mata dan telinga mendapati segala prinsip dan pendapatmu sangat berbeda dari
kebanyakan orang. Semangatmu untuk tetap berani bersuara, untuk tetap merunduk
di kala mendengarkan seseorang mempersilahkan kamu untuk mendengarkan keluh
kesahnya. Terima kasih untuk telah mengambil segala resiko dan konsekuensi atas
segala pilihan yang kamu putuskan. Kamu yang selalu berani untuk menyembuhkan
aku, terima kasih untuk segala rasa yang kamu bawa ke dalam diriku. Segala perasaan
bahagia, haru, hingga sakit hati sekali pun kamu yakinkan adalah bagian dari
setiap manusia untuk berproses.
Zita, tetaplah jadi manusia yang merunduk, yang selalu percaya
bila orang lain yang terkena musibah atau bencana, itu adalah karena Tuhan
ingin mengangkat derajat mereka. Dirimu yang ketika dilanda masalah dan merasa
berat, itu adalah karena Tuhan percaya kamu bisa melewatinya.
Zita, tetaplah tersenyum dan bersyukur atas apapun yang terjadi,
atas apapun yang berada di luar ekspektasi dan kuasamu. Menangis pun boleh
tetap kamu rasakan, menangislah kalau memang terasa berat.
Zita, proses untuk kamu menjadi dewasa masih sangat panjang. Masih
banyak hal yang akan kamu raih, masih banyak orang yan perlu kamu temui, masih
banyak rasa yang harus kamu nikmati tiap detiknya.
Tetaplah jadi manusia yang memanusiakan manusia. Tetaplah rendah
hati. Kamu yang kamu bayangkan saat ini, kamu yang kamu amiinkan saat ini, kamu
yang selalu kamu impikan tiap waktunya, semoga akan ada hari di mana kamu
merasa lega dan tersenyum ketika kembali membaca tulisan ini.
Jadilah lebih baik, ya?
Bukan cuma km aja, semoga akan ada hari dimana anak2 km merasa lega dan tersenyum ketika membaca tulisan ini juga.
ReplyDelete"Tetaplah jadi manusia yg memanusiakan manusia" jgn sampe nelen ludah sendiri ya jitong
iya, relate banget semoga beberapa tahun ke depan semakin bisa berbagi hal posisitf walau cuma lewat tulisan.
Deleteyang penting terus berusaha jadi lebih baik pasti gak nelen ludah sendiri kok hehe