Pengalaman adalah guru terbaik
Alhamdulillah tanggal 14-16 Maret 2016 kemarin kami semua sukses mengadakan acara PLM yang memang dirancang sebagai program khusus tahunan. Kalau dipikir-pikir acara-acara seperti ini harusnya dilakukan tiap hari saja //HMMM// agar lelah itu bisa terasa sangat menyenangkan. Karena seperti aku, anak yang lebih suka bermain di luar, ketika tiba-tiba disuruh belajar di dalam ruangan tanpa camilan dan mainan kemudian hanya diberi buku dan soal latihan, lebih baik duduk selonjoran sambil mendengarkan lagunya Ed Sheeran. Yang ada bukannya selesai belajar, malah lebih cepat tertidur pulas (Tapi lagu-lagu Ed Sheeran overall favoritku semua kok).
Jadi, seperti postingan PLM tahun lalu (yang belum baca bisa cek di sini ya http://zitarifdani.blogspot.co.id/2015/03/that-i-had-best-day.html ) acara PLM tahun ini juga alhamdulillah masih tetap sama, ada SMAIT Mengajar, sembako murah (atau gratis ya?), memasak, bazar pakaian pantas pakai, mengajar TPQ, dan membangun rumah tangga warga.
![]() |
| Repost from Diskha's instagram : "Tjie ka-mu yang lagi bangun rumah tapi ngga pakai tangga (re : rumah tangga) Emang udah ada yang mau? Maih jauh, Disk, Zit, pantaskan diri dulu |
Kalau tahun kemarin PLM diadakan di Karangrau, sebuah desa di pinggir Banyumas, kali ini diadakan di tengah kota Purwokerto, tapi ketika masuk ke dalam kawasan tersebut, rasanya seperti masuk ke desa. Rumah-rumahnya masih agak harus diperbaiki dan masih sangat minimalis untuk satu keluarga yang isinya bisa sampai sumpek untuk arisan dawis. Lalu jalannya ada banyak sekali sampai suatu ketika aku dan teman-temanku berkunjung ke sana, ketika saat itu kami sudah melewati satu jalan, tiba-tiba kok ya bisa lewat jalan yang itu lagi. Bisa dibilang rasanya seperti masuk ke dalam labirin (re : susah untuk keluar).
Dan, sama seperti tahun kemarin, aku kebagian untuk program SMAIT Mengajar. SMAIT Mengajar ini dilaksanakan di 4 sekolah. Ada di SDN 1 Arcawinangun, SDN 3 Arcawinangun, SDN 4 Arcawinangun dan SDN 5 Arcawinangun. Mayoritas dari kami mengajar anak kelas satu sampai tiga, walau memang ada yang mengajar kelas empat. Setiap regu diisi oleh tiga orang yang ndilalah ternyata saat kami cek ke sana muridnya ada banyak sekali. Sempat berpikir, "Bisa ngga, ya, dengan kami yang hanya bertiga mengajar anak sebanyak ini?" Karena tahun lalu, aku dan teman-teman hanya mengajar sekitar 20-an anak dan saat itu 1 tim berisi 4 orang, tapi sekarang, 1 timku yang berisi 3 orang mengajar 46 anak. Saat diberitahu ternyata kelompokku yang dapat 46 anak tersebut, buru-buru langsung bingung dan kaget, "Waduh, doorprizenya harus beli lagi dong." , "Walah, nametagnya harus buat lagi dong," Padahal saat itu persiapan sudah beres, akhirnya kami harus bekerja lagi.
Ternyata memang, pengalaman adalah guru terbaik. Saat aku dan teman-teman sampai di SDN 3 Arcawinangun (kami mengajar kelas 1 tentang rumah), saat itu semua murid-murid sedang senam pagi. Lucu sekali, sampai guru-guru pun ikut senam pagi mendampingi anak-anak. Lalu kami langsung digiring (?) ke ruang kepala sekolah dan diberi pengarahan. Setelah itu mulailah kami mengajar. Saat itu ada 2 kelompok, yaitu kelompokku dan Mella. Kelompok Mella mengajarkan tentang mendongeng kepada murid-murid kelas 2.
Saat awal-awal masuk ke kelas, kami langsung disambut oleh anak-anak dan wali kelasnya. Sebelum kami mengajar, si ibu wali kelas (aku ngga tahu namanya siapa T_T) mereview materi yang memang berkaitan dengan dengan materi yang akan kami sampaikan. Nah, pada saat si ibu ini mereview materinya, aku dan Diskha sempat terbelalak, "Dis, kok materinya beda banget ya?" sambil membulatkan mata karena terkejut. Tapi setelah itu kita asikin aja lah, setelah dilihat lagi materinya hampir mirip kok hehehehehehe.
Tapi memang menajar anak-anak yang jumlahnya saat itu 46 anak sungguh sabar sekali. Saat kami mengabsen mereka satu-satu, ada saja yang klotekan meja dan lari-lari. Saat kami sedang menerangkan materi, ada saja yang maju-maju ke depan untuk mengintip hadiah-hadiah yang akan kami berikan. Saat kami sedang memberikan yel-yel tahu-tahu ada yang bertengkar hingga menangis, sampai-sampai ibunya si anak tersebut masuk ke dalam kelas dan menyalahkan anak yang bertengkar dengan anaknya. Kami kaget saat itu, karena tiba-tiba si ibu tersebut masuk ke dalam kelas dan ibu tersebut menyuruh anaknya minta maaf kepada kami. Saat itu aku bingung, "Lah, bu, anak ibu mah bukan berantem sama saya, kok disuruh minta maaf sama saya?" //tapi ngomongnya sih dalam hati//nanti takut ibunya ngamuk juga :')// Setelah anak tersebut sudah berhenti menangis, kami melanjutkan pembelajaran lagi dan ndilalah kejadian lagi. Kali ini anak perempuan. Tiba-tiba menangis. Padahal ngga ada yang nakalin dia. Lalu akhirnya karena dia ngga mau bicara, aku pun bilang, "Coba sini, bisik-bisikkan aja sama kakak biar yang lain ngga denger." Lalu akhirnya dia cerita kalau tempat pensilnya dia yang warnanya pink dijatuhin temannya terus ia menangis.
Ya ampun,
Rasanya,
Pengin menggelinding aja deh ke aspal.
Kalau dikenang memang mereka ini menggemaskan sekali. Apalagi saat kami berpamitan pulang. Semuanya membuntuti kami sampai keluar dari gerbang sekolah. Ada juga melarang kami untuk pergi. Ada pula yang saat diberi nametag, mereka ngga bisa membuka double tip-nya, padahal kan tinggal dikelupas aja ya :') Akhirnya kami ajari mereka untuk membuka double tip.
Dan aku bahkan ngga tahu kapan saat-saat seperti ini bisa aku rasakan kembali. Mengajar 45 anak (karena ada 1 anak yang tidak masuk) rasanya luar biasa sekali. Kata wali kelasnya, mereka berantem itu wajar, karena mayoritas muridnya memang laki-laki (tapi sayangnya ngga nemu yang ganteng) Tapi, yang mungkin aku rindukan adalah bagaimana mereka memberikan perhatian itu kepada kami //dasarnya emang kurang perhatian// Bagaimana mereka merasa butuh akan pelajaran yang kami berikan dan bagaimana cara mereka berterima kasih.
![]() |
| Ini saat kami (yang OSIS dengan ustadzah Kirana) mengajar TPQ. Anak-anaknya masih kecil-kecil sekali, kayaknya kalau kena sapu sedikit aja udah rapuh mungkin. Semangat mengajinya ya, adik-adik! |
Karena pengalaman memanglah guru yang terbaik.
Salam hangat untuk adik-adikku sayang,
Zita





Comments
Post a Comment