k dengan Sarah hari itu, dan pas di depanku adalah Ifah dan Ifa. Dan Sarah langsung memberi aku semua pertanyaan yang menurutku membingungkan karena terus terang sebetulnya belum pernah aku alamin.
Ketika aku selesai menaruh mukena di lemari kelas dan memakai sepatu, Sarah yang duduk di sebelahku langsung memberiku sebuah pertanyaan membingungkan itu.
"Zit, aku punya sebuah pertanyaan buat kamu." ujar Sarah dengan tatapan misterius, seperti biasa.
"Apa, Sar?"
"Misalnya, kamu suka dengan seorang cowok, dan tiba-tiba di suatu hari kamu tahu bahwa cowok itu pacaran sama sahabat atau musuhmu. Menurut kamu, lebih sakit yang mana? Yang cowok yang kamu taksir pacaran sama temanmu apa sama musuhmu?"
Dan aku berpikir, diusiaku yang remaja ini, aku memang sudah diberi fitrah oleh Allah untuk mengagumi lawan jenis, dan aku menganggap hal itu enjoy saja. Dan aku nggak merasa bahwa ini membuat aku terbebani karena aku merasa aku menyukai seseorang secara nggak muluk-muluk dan nggak dramatis.
"Aku rasa musuh deh, Sar."
"Alasannya?"
"Ya, kalau musuh kan, memang kita udah benci dan nggak suka dengan dia, tapi kalau sahabat kan masih kita kasih pengertian, dan aku rasa, kalau sahabat itu memang tahu kita suka sama itu cowok dan ternyata for real dia pacaran sama itu cowok, pasti dia ada perasaan bersalah dan nggak enak sama kita. Coba kalau musuh, dia sih enak aja kita sengsara."
"Oke, oke. Thanks, Zit."
Dan aku nggak berhenti di situ aja, aku langsung membuat daftar nama-nama anak Sauted yang diberi pertanyaan dan langsung mengekor dibelakang Sarah. Dan hampir ya 95% deh anak Sauted udah kami kasih pertanyaan itu. Dan keseluruhan menjawab sahabat, misal "Kan sahabat udah sama kita lama, udah saling cerita, udah saling ngerti, masa sampai sejahat itu ternyata dia pacaran sama cowok yang kita suka? Secara nggak langsung kan dia udah ngebunuh kepercayaan yang kita kasih ke dia. Sama aja kan dia penghianat." atau "Jelas sahabat lah, kita kan udah percaya sama dia, masa dia tiba-tiba sejahat itu? Itu namanya nusuk dari belakang."
Ada juga yang setipe denganku (menjawab musuh) seperti Bella, Jihan, dan Ifah. Kalau alasannya Bella kira-kira gini, "Musuh, Zit. Kita kan emang udah benci dan sebel sama dia, kalau ternyata dia pacaran sama cowo yang kita suka, dia nanti tambah besar kepala dan ngerendahin kita. Kalau sahabat kan masih bisa kita nasehatin."
Jadi kesimpulannya, teman bisa jadi musuh dan musuh bisa jadi teman? Sebenarnya nggak segampang itu. Ketika kita dihadapkan dengan 2 pilihan, harus memilih sahabat atau cowok yang kita suka, kamu akan milih yang mana? Ketika kamu harus melepaskan salah satu diantara mereka, mana yang akan kamu pilih dan kamu lepas? Semua jawabannya ada pada dirimu dan kamu akan memulainya setelah kamu memutuskannya :)
So, if you could choose? Choose which one?
With Love,
See you in the next post! :D

seneng lho nemuin namaku di sini ^^
ReplyDeleteCoz aku ngefans berat sama kamu :3
Delete