Ada yang bilang, "Jangan terlalu bahagia, nanti akhirnya menangis belakangan."
Ya ngga, sih?
Percaya, ngga?
Itu beneran atau engga?
Hei, yang bener, dong!
Percaya ngga percaya sih, itu kan hanya kata orang alias anonymous gitu, tapi kalau bilang beneran atau engga, aku ngga bisa memastikannya karena perasaan dan pikiran orang kan beda-beda.
Tapi setiap orang kan pasti pernah merasakan senang dan sedih, ngga mungkin dong senang terus, dan ngga mungkin juga sedih terus. Ada kalanya kita senang dan ada kalanya kita sedih. Karena Allah itu adil, kok.
Dan hal yang paling membahagiakan adalah saat melihat melihat orang yang kita sayangi juga bahagia karena kita. Percuma kan kalau kita bahagia tapi orang lain ngga bahagia, rasanya kita jadi semacam egois.
Dan hal bahagia yang lain adalah ketika kamu membuat sebuah target dan target itu bisa terpenuhi bahkan melebihi yang kamu bayangkan. Misal, kamu punya target rata-rata UN 9,0 (padahal UN aja belom) dan ternyata selesai pengumuman kamu tahu bahwa rata-rata UN kamu 10,0. Tapi ngga lupa untuk berdo'a, belajar, minta restu orang tua dan mengerjakan dengan kemampuan sendiri. Pasti senang kan? Rasanya seperti ada banyak kupu-kupu terbang dari perut kamu. Selain kita senang, guru dan keluarga pasti bangga dengan apa yang kita raih.
Bahagia yang lainnya adalah tahu bahwa kamu sudah bisa mengkhatamkan Al-Quran. Jujur. Saat pertama kali aku mengkhatamkan Al-Quran, aku senangnya bukan main. Aku langsung pamer ke teman-teman. "Gaiss aku udah khatam Al-Quran loh!" sambil loncat-loncat ngga jelas dan ngga peduli ketika dilihat teman-teman yang bingung. Tapi beneran, itu adalah salah satu hal yang membahagiakan untukku.
Bahagia satu lagi adalah ketika kita setiap hari bisa sholat tahajjud dan sholat dhuha. Asli. Aku bahagia sekali, bahagia melihat lembar pantauan amaliyyahku sebagian besar terisi penuh, hanya beberapa yang kolom yang distrip. Dan hati rasanya jadi lebih lega karena waktu berdo'a dan berkomunikasi dengan Allah jadi semakin banyak dan efektif, serta membuat aku jadi kaget dan heran sendiri, "Bisa ya, aku jadi religius begini, bisa bangun 1/3 malam bisa lebih banyak bisa mengungkapkan isi hati kepada Allah, bisa lebih banyak memuja dan memohon ampunanNya lebih banyak, dan lebih gasik dari yang lainnya."
Dan hal yang paling sedih -- menurut aku, adalah ketika apa yang kita dapat ngga sesuai dengan apa yang kita harapkan. Rasanya itu sediiiih sekali, sakiiitt sekali. Ibaratnya kulitnya kayak ditusuk-tusuk sama ngengat tawon. Sakit, kan?
Dan contohnya itu adalah ketika tahu bahwa doi ngga suka sama kita.
HAHAHAHAHAHA. ketawa maksa
BERCANDA KOK BERCANDA.
Kalau buat contoh sedihnya, mungkin bisa dipikir sendiri ya hihi.
Dan ternyata cara untuk menyembunyikan kesedihan itu ternyata susah sekali. Meskipun kita ngga cerita apa yang membuat kita sedih, orang akan melihat dari sikap kita, dari raut wajah kita, dari cara kita berbicara juga. Dan kebanyakan kalau ditanya, "Kamu kenapa?", hampir 90% teman-temanku menjawab, "Aku ngga apa-apa." dan itu sungguh berlawanan dengan isi hati. Karena kadang kalau kita cerita pun rasanya juga takut, takut orang lain salah menilai apa yang kita rasakan.
Jadi mau senang atau pun sedih, sebenarnya porsinya sama kok. Jadi kalau kita bersedih jangan berpikir untuk menyalahkan orang lain atau keadaan, justru kita harus berintrospeksi diri, merendahkan emosi, mencoba berpikir realistis, dan mencoba untuk menenangkan diri.
Allah knows you are tired
Allah knows it's difficult for you
Allah knows you are squeezing your last drop of energy
But you must also know that Allah would never place you in a situation that you can't handle
-Anonymous-
Jadi untuk kamu, berbahagialah, buang sedihmu dan tampakkan senyum cerahmu.
Seperti pelangi setelah hujan
Yang selalu membawa kebahagiaan
Salam manis,
Zita
Comments
Post a Comment