It started when the summer began
When I walked in that day
I saw you there
And our eyes met for no reason.
.
.
.
.
And now how I can tell him that I really want to show him I don't want him to go ...
Mengawali sebuah postingan dengan kalimat-kalimat galau yang mengaum sepertinya lagi aku segani ini hehehe. Tapi berhubung aku ini swag dalam artian no galau person aku mencoba membuat orang lain untuk bisa galau tanpa aku yang terkena kegalauan. Nah. (jangan curhat zit)
Tapi sebenarnya sepenggal larik di atas ngga ada hubungannya sama postingan kali ini, sih. (kesel ngga)(diguyur air)(dijatuhin batu)(kemudian readers end up)(tarik readers balik)(Ga ya, kalian kan baik)
Tapi berhubung minggu-minggu ini aku sibuknya luar biasa, dari seseorang yang malas kemudian menjadi seseorang yang rajin, itu ternyata perubahannya sungguh luar biasa dan di luar dugaan loh.
(mudeng ga)(salam deh ya)
Dan karena aku sudah hampir mendekati ujian nasional yang faktanya adalah ujian tertulis terakhir di masa sekolah, aku juga jadi takut dan deg-degan yang luar biasa sangat ; oke ini lebay. Tapi serius loh. Teman-temanku sekarang sudah punya progress bagus yang luar biasa tapi aku merasa like oh why I'm always in the same place. Dan kadang yang membuat uring-uringan adalah kenapa aku ngga bisa berkembang seperti mereka.
Dan aku sungguh bersyukur karena selalu mendapat di kelas yang kalau aku bilang selalu diidamkan semua orang tapi sebenarnya justru adalah kelas yang paling horor sepanjang masa. Iya, sepanjang masa. Nah loh. Jujur deh, aura persaingannya tuh sungguh kerasa walau masih dibarengi dengan aura perdamaian nan pertemanan.
Tapi sungguh aku iri sama teman-teman yang pernah ganti-ganti kelas.
Iri sama teman-teman yang dikelasnya engga dengan itu-itu aja.
Kenapa?
(mikir keras)(guling-guling di lantai)
Iya. Iri. Coba. Bayangkan.
Mereka bisa merasakan bagaimana senangnya bisa naik kelas, bisa dapat hadiah sebagai pendapat perubahan nilai terbaik yang usut punya usut hadiahnya ya lumayan (jadi ini sebenarnya yang bikin aku pingin)(tapi engga ding, aku lagi menabung kok), terus bisa berlonjak senang waktu tahu rankingnya bisa naik drastis setelah perjuangan yang keras, bisa merasakan down ketika turun kelas dan nilainya ngga memuaskan, lalu membuat janji pada diri sendiri untuk bisa bangkit lagi dan ngga memulai kesalahan yang sama.
Itu.
Ya, kalau dipikir ya pingin bisa nomaden. Bisa punya banyak temen juga. Bisa cerita juga gimana prosesnya naik dan prosesnya turun. (tapi ya engga ding ya, lebih baik di sini, rumah kita sendiri)(malah nyanyi)
Karena apa? Aku ingin bisa punya power yang lebih kuat dan lebih besar dari sebelumnya. Punya rasa semangat dan perjuangan yang lebih dahsyat dari hari-hari yang lalu.
Coba misal, setelah try out, terus diumumin nilainya, terus nilainya naik (naik-naik banget sampai ke puncak gunung)(ngga ding aku mah end upnya nanti malah di anak gunungnya, bukan di puncaknya), senangnya pasti bukan kepalang terus cerita ke bapak ibu juga enak, terus juga habis itu ditanyain, "Kamu nilainya naik mau minta apa?" Nah loh. Tapi sungguh itu adalah saat yang bahagia banget kan waktu perjuangan sudah membuahkan hasil.
Nah kalau contoh downnya gimana zit?
(gimana ya)(mendadak menggelinding)(readers mulai males baca)
Kalau contoh downnya aku juga punya pengalaman sendiri sih. Dan yang dibikin sayang dan yang aku sayang banget serta paling aku syaang adalah itu adalah suat proses yang mengedownkan banget. Ahie monggo dipriksa nggih sampun dibold lan di italic.
Tapi sungguhan loh, walau waktu itu aku masih bisa selamat dengan tetap berada di kelas tersohor, tapi juga sedih yang aku bilang berkepanjangan. Waktu itu try out ke 3 aku ranking 11 dengan rata-rata 8,53 tuh rasanya senang banget, tapi begitu try out setelahnya ketika aku jeblok jadi ranking 31 itu sungguh kesedihan yang perkepanjangan kali lebar sama dengan luas. Nah loh.
Tapi dibandingkan dengan sekarang, rata-rata 8,53 itu untuk kelas pembahasan aja udah masuk kelas ketiga loh, berarti kemungkinan masuk kelas pertama juga sulit kan? dan itu bisa dibilang kecil dibandingan sekarang yang boro-boro ranking 11, rangking 26-an ke atas aja rata-ratanya udah mulai 9.
Coba, coba kenapa bisa begitu?
Kalau aku rasa, karena di dalam progres itu ada suatu potensi dan semangat buat bisa lebih baik. Buat bisa memperbaiki hasil yang sudah ada, dan kalau udah bisa menjadi lebih baik, menurut aku juga harus punya tekat buat jadi yang terbaik.
Semisal, kalau di sekolahku, untuk yang pakai toga saat hari kelulusan bukan toga untuk sembarang orang. Cuma 10 orang dengan peringkat terbaik yang pakai toga, atau ngga ya boleh maksain buat nyewa toga dan dipakai di hari kelulusan, tapi engga, ya hehe.
Dan aku juga sempat berpikir kenapa harus cuma 10? Kenapa ngga semuanya? Padahal dulu aku SD juga semuanya kebagian toga, kenapa di SMP cuma 10 anak doang? Dan ternyata pemikiran seperti ini juga pemikiran tak berujung dan berkepanjangan. Tapi seperti yang aku bilang, 10 orang ini adalah 10 orang terbaik. Ngga sembarang orang bisa jadi 10 ini. Nah loh. (mulai komat-kamit baca mantra)(kemudian nyemburin air 7 rupa-wan)
Karena kita semua tanpa disuruh, harus punya ambisi, punya power, punya kekuatan, punya semangat buat bisa jadi yang terbaik dan selalu berusaha untuk baik baik baik. Alhasil mungkin dibuatlah peraturan toga kayak gitu (ini zita sotau ya maapkeun)
Tai berhubung dengan toga, awal mulanya aku cuma pingin pakai toga, ini berawal dari percakapan ngga pentingku dengan ajeng gegara waktu itu kita masih di 20-an.
Aj : "Zet, aku pingin banget pakai toga."
Me : "Stt... sama keles." (alay ya maapkeun)
Aj : "Tapi kayaknya susah bet. Cuma 10 orang doang dan kayaknya it's so hard."
Me: "Aku juga gitu. Aku ngga peduli nilaiku berapa yang penting bisa pakai toga."
Nah kan. Berawal dari ketidakpedulian itu akhirnya jadi peduli buat bisa jadi yang terbaik. Sungguh, loh. Walaupun lelah, tapi semangat itu juga harus ada yah.
Nah berhubungan sama yang tadi aku tulis. Progress. Karena di dalam sebuah hasil, progress itu yang the most precious.
Jadi intinya adalah ... (garuk-garuk kepala)(brb sampoan)
Jadi, seberapa bagus dan jelek hasil dari suatu hal, yang paling penting adalah prosesnya gais. Jadi dari proses itu kita bisa tahu bahwa sebenarnya apa yang sudah benar kita lakukan dan sebenarnya apa yang salah. Di dalam proses itu juga kita juga bisa mengukur kemampuan kita. Dan hasil dari proses tersebutlah apa yang kita dapatkan.
Semangat,
Zita : )

Comments
Post a Comment