Skip to main content

Berdamai dengan Hati




Halo, blog

Ngambek, ya?

Setelah dianggurin sekitar satu bulan, akhirnya aku menulis (lagi). Sebenarnya bukan karena tidak sengaja, tapi karena benar-benar sengaja. Sengaja untuk meluangkan waktu untuk menulis di sini. Karena kalau lama-lama dianggurin yang main ke sini juga makin dikit HUAAAAAAAA //maaf ya anaknya emang kadang-kadang random gitu//tanda-tanda kurang kasih sayang//

Oke, tadi intermezzo dulu ya //Alesan//

Jadi,

Ada banyak hal yang aku ingin beri tahu (walau di luar sana banyak sekali orang yang bahkantidak ingin tahu atau bahkan tidak peduli), yang aku ingin tulis, yang aku ingin tuangkan dalam bentuk kebawelan dalam tarian kata, tapi waktu memang berjalan cepat sekali, ya? Kita kadang bisa saja melewatkan banyak hal, melewatkan banyak peristiwa.Yang kadang kita lupa. Lupa bagaimana untuk belajar dari hal-hal itu, lupa untuk mengerti bagaimana hal-hal tersebut bisa terjadi, dan lupa bagaimana caranya bersyukur.

Jadi aku bersyukur sekali, karena dari banyak peristiwa tersebut aku bisa belajar. Belajar bagaimana untuk iklas, bagaimana untuk bersyukur dan belajar bagaimana untuk menerima.

Maka kadang, aku masih tidak tahu, apa yang disebut tentang melepaskan? Apa yang disebut tentang iklas? Apa yang dimaksud dengan menerima dan ....... berdamai.

Ada banyak definisi yang bahkan sudah aku cari namun dari sekian banyaknya tidak ada satu pun yang menurutku sesuai dengan apa yang aku rasakan tempo hari. Maka mungkin Tuhan memberi aku sebuah pengalaman yang membuatku mengerti tentang apa yang dimaksud dari definisi-definisi tersebut.

Maka saat itu akhirnya aku tahu tentang seluruh rangkaian cerita yang telah terjadi selama hampir satu tahun ini dengan berisikan hanya dua tokoh. Mungkin pada masa itu dua tokoh ini (atau lebih kepada si tokoh utama) tidak sadar bahwa semua itu hanya kepalsuan belaka. Hanya bayang-bayang semu yang mereka buat sehingga ketika semua kedok terbuka, semesta memperlihatkan semua kepalsuan-kepalsuan tersebut. Si tokoh utama bahkan tidak tahu, ataupun tidak mengerti, yang sebenarnya terjadi benar-benar diluar kuasanya. Hatinya remuk dan jatuh berkeping-keping yang bahkan ia tak tahu kemana pergi dan hilangnya bongkahan-bongkahan hatinya yang sudah rusak. Pada saat itu bahkan ia tak tahu bagaimana bisa mengembalikan hatinya yang rusak. Mengumpulkan kembali bongkahan-bongkahan hati yang sejak awal bahkan sudah dipenuhi oleh racun.

Dan tokoh yang lain entah sedang berkelana ke mana. Ia tak tahu bahkan mungkin tak sadar bahwa ia telah "membunuh" seseorang. Maka semua kepalsuan tersebut sudah terpampang dengan jelas. Ia yang entah berada di mana atau sedang berkelana ke mana bahkan tak pernah tahu tentang bagaimana buruknya "membunuh seseorang". Tapi peduli pun tidak. Orang bahkan tak pernah mengira, dibalik sosoknya yang baik dan tak pernah ada cerita buruk tentangnya, tak pernah terbelisit tentang bagaimana sosoknya ketika sampai dalam pun orang tahu bagaimana ia.

Maka begitulah cerita ini berakhir. Orang-orang sudah terbiasa dengan prolog dan epilog yang indah. Orang-orang sudah bisa menerka tentang bagaimana jalan cerita. Namun kadang, ada beberapa cerita yang dibuat untuk bisa memahami bahwa cerita itu tak selalu berakhir dengan indah. Cerita itu tak selalu dibuat dengan epilog yang bahagia. Selalu ada pelajaran yang bisa diambil. Bahkan ketika luka tersebut perlahan sudah mulai mengering, ia tahu bahwa inilah yang namanya cerita. Maka Tuhan membuat skenario sedemikian rupa agar ia bersyukur dan lebih menghargai peristiwa-peristiwa yang membuat hatinya terbang sehingga ia tahu bagaimana bisa mendaratkan hati tersebut agar tak luka ketika sampai di permukaan.

Akhirnya, ketika luka tersebut sudah mulai mengering, ia tahu bahwa peristiwa ini bukanlah akhir dari apapun. Masih banyak perjalanan yang harus ia lewati, bahkan tanpa ada tokoh lainnya yang entah telah berkelana ke mana. Maka, ia mulai berpikir untuk berdamai, untuk mengiklaskan apapun yang sudah terjadi dalam hidupnya dan melepaskan. Melepaskan rasa sakit yang selama ini menggerogoti hatinya. Mencoba untuk berdamai dengan keadaan, walau dunia terasa menginjaknya begitu keras, ia tahu bahwa cepat atau lambat luka ini akan sembuh. 

Maka berdamai itu berarti menerima. Menerima berarti mengiklaskan. Mengiklaskan berarti melepaskan. Seperti apa yang dikatakan Tere Liye dari buku kumpulan quotesnya tentang cinta, rasa sakit di hati itu hanya ibarat kabut di pagi hari. Tunggulah matahari tiba,maka dia akan hilang bersama siraman lembut cahayanya. Rasa sakit di hati itu hanyalah ibarat kabut pagi. Tidak pernah mengubah hakikat indahnya pagi. Bahkan bagi yang senantiasa bersyukur, dia akan menari (meski sambil menangis) di tengah kabut. Dan itu sungguh tarian indah. Tarian penerimaan.

Apapun yang terjadi, kita tahu, itu semua sebagai proses kita untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Dan yang bisa aku ambil dari semua serangkaian peristiwa ini, jangan pernah mencoba untuk "membunuh" seseorang. Jangan pernah datang ketika akhirnya akan meninggalkan tanpa alasan. Karena kita tak pernah tahu, cepat atau lambat kita akan merasakan sakit yang sama. Atau bahkan sakit yang lebih sakit dari yang ia rasakan.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 



salam hangat,
zita


Comments

  1. Wah bagus tulisannya, panjang panjang lagi :D

    *visit yaa xD http://mrdailydiary.blogspot.co.id/ *

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

What a Year Has Taught Me

At the first time when I taught about what happiness means, it always gonna be, "It would be really amazing when things always go right." not because it's just always happiness that we feel, not always a blooming flowers that we see from afar, or just a warm jasmine tea that we always drink when it's a fully rainy day. When it comes to the time when I think about what happiness means, I always get a different meaning and perspectives.  When it came to my arrival at home in the last October, I was very ready to go back to my childhood memory, to go every side of this small city, to feel the breeze in the morning and every evening, to go to every places that has already been part of my childhood memories. Memorizing and reminiscing the feel when it comes to laugh hard with old friends, when it goes to do gardening with mom and harvesting her plants also comes to go a long night ride with my father. At that time, what happiness means to me was redoing every part of my ch...

Terus Belajar

Pengalaman adalah guru terbaik Alhamdulillah tanggal 14-16 Maret 2016 kemarin kami semua sukses mengadakan acara PLM yang memang dirancang sebagai program khusus tahunan. Kalau dipikir-pikir acara-acara seperti ini harusnya dilakukan tiap hari saja //HMMM// agar lelah itu bisa terasa sangat menyenangkan. Karena seperti aku, anak yang lebih suka bermain di luar, ketika tiba-tiba disuruh belajar di dalam ruangan tanpa camilan dan mainan kemudian hanya diberi buku dan soal latihan, lebih baik duduk selonjoran sambil mendengarkan lagunya Ed Sheeran. Yang ada bukannya selesai belajar, malah lebih cepat tertidur pulas (Tapi lagu-lagu Ed Sheeran overall favoritku semua kok). Jadi, seperti postingan PLM tahun lalu (yang belum baca bisa cek di sini ya  http://zitarifdani.blogspot.co.id/2015/03/that-i-had-best-day.html  ) acara PLM tahun ini juga alhamdulillah masih tetap sama, ada SMAIT Mengajar, sembako murah (atau gratis ya?), memasak, bazar pakaian pantas ...

I Had The Best Day

Jadi, tanggal 9 sampai 11 Maret 2015 kemarin di Karangrau Banyumas, tepatnya hari Senin sampai Rabu, aku dan teman-teman kelas 10 dan kelas 11 mengikuti kegiatan PLM atau singkatan dari Pengenalan Lingkungan Masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan pas kakak-kakak kelas 12 menjalani UAS (eh apa US ya?)(Bedanya apa toh? Aku nda ngerti). Karena di postingan sebelumnya aku belum mengorek sedikitpun tentang kegiatan ini, soalnya kan postingan kemarin aku bikin puisi galau gitu yang sebenarnya aku pun masih mikir apa sih manfaatnya? HAHA Anyone feel me. Tapi ngga apa-apa kok, kan namanya berkarya, dalam keadaan apapun aku selalu write them down, all of them, mau itu sedih, senang, atau pun flat. . . Jadi kembali lagi. . . Kalo postingannya dibuat berjeda-jeda bikin penasaran ngga . . Haha, jangan kzl ya . . Nah, ada beberapa kegiatan di acara PLM ini. Buat yang putri itu mengajar dan memasak, terus buat yang putra itu bangun rumah. Dan aku kebagian kegiatan me...