Jadi, apa, sih nikmat Tuhan?
Weitz, belum apa-apa langsung blak-blakan. Pengantar begini mah sebenarnya salah ya, ngga boleh dipakai. Ngga ada kaidah kepenulisannya sama sekali. Menulis pengantar kok cuma sebaris, lima kalimat doang lagi.
Jadi, apa, sih, nikmat Tuhan?
(Teteup kekeuh)(lha ini kan blog saya, gak saya dong untuk mengisi segala hal yang ingin saya tulis atau saya tuangkan dalam bentuk kata-kata)
(Belum apa-apa kok udah ngegas aja ya)(samfah bgt deh ya hahahahahaha)
Setelah dari apa yang aku alami sebelumnya, nikmat Tuhan itu beraneka ragam dan bermacam-macam sampai berjuta bahkan bermilyar bahkan sampai triliyunan lebih nikmat yang sudah kita rasakan. Sejak kita pertama kali sadar telah berada di dunia, bahkan hingga detik ini, saat aku menulis (dan mungkin aku akan merangkum) nikmat-nikmat yang sudah aku dapatkan. Tapi mungkin aku akan lelah jika menuliskan semuanya, jadi kali ini aku hanya akan menuliskan salah satu dari semua nikmat-nikmat Tuhan yang sudah Ia berikah padaku.
Jadi beberapa jam yang lalu saat di sekolah, saat kami sedang mengobrol karena adanya pelajaran kosong, salah satu temanku bilang, "Menurutku, jenis teman itu ada 2. Teman yang memang hanya bisa untuk mengobrol biasa dan untuk main-main, dan yang satunya adalah teman yang memang benar-benar bisa kita ajak curhat, bisa kita ajak menangis bareng dan teman yang memang ketika raut wajah kita berubah pun, ia bisa tahu apa yang terjadi dengan kita."
Kemudian aku bertanya, "Lalu, menurutmu kami termasuk dalam teman jenis apa?"
((Mending ceritanya ngga usah dilanjutkan ya, karena kalian pasti sudah tahu jawaban seperti apa yang menyayat hati))
Sampai rumah pun aku masih berpikir. Masa sih, ada jenis teman seperti itu? Maksudku, masa sih ada orang sekejam itu berkata bahwa teman punya jenis-jenis? Menurutku memang lumrah terjadi karena kita hidup sebagai makluk sosial. Maka mungkin jelas bila kita membutuhkan orang lain untuk bicara, untuk meminta bantuan. Lalu, selanjutnya biarlah orang-orang itu, karena mungkin mereka menganggap kita orang penting dalam hal-hal tertentu.
Dan, menurutku kita semua juga pasti menyeleksi orang-orang saat kita beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan kita memilih dengan siapa kita nyaman berbagi, dengan siapa kita suka untuk bercerita dan dengan siapa kita tak sungkan untuk membagi cerita pilu. Dan ketika kita nyaman, dan orang lain pun tak sungkan, maka terjalinlah kebersamaan tersebut.
Dan beberapa waktu yang lalu aku membawa sebuah artikel yang menurutku lebih ke sebuah renungan, bahwa sahabat yang baik adalah ia yang berani dan peduli untuk mengingatkanmu akan kebaikan dan mengajakmu untuk melakukannya. Dan, aku merenung lagi dan lagi. Sudahakh aku mendapatkan saah satunya? Atau sudahkan aku menjadi salah satunya? Karena ketika sebuah ikatan terjalin karena Allah, maka apakah dua jenis teman yang temanku tempo waktu masih berlaku masanya? Jika sebuah persahabatan dijalin karena Allah dan atas dasar untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, akankah ada salah satu pihak yang akan menikam yang lain dari belakang? Atau adakah dendam terselunung yang akan mengakar di hati? Atau adakah kemungkinan ia akan berpaling?
Wallahu'alam
Tapi, berdasarkan apa yang aku rasakan, sahabat itu bukan orang yang bisa kamu ajak untuk sms-an tiap malam melainkan ia yang selalu excited untuk mendengarkan kisah-kisahmu ketika tak sengaja bertemu dan ia yang ikut sedih dan terkejut seakan bisa merasakan apa yang kamu rasakan ketika ia dengar atau pun melihat kamu berisak tangis.
Dan itulah salah satu nikmat Tuhan yang Ia beri kepada kita. Punya sahabat yang bisa mengingatkan akan kebaikkan dan menjaga kita agar selalu menaatinya. Karena mereka adalah orang-orang yang sulit untuk ditemukan, walau hilang sekali pun.
Jadi, bukan soal mereka yang menemukanmu lebih dulu,
tapi tentang bagaimana mereka tetap berada di sisimu ketika orang lain menjatuhkanmu
Bukan soal mereka yang bisa membuatmu tertawa hingga kamu tak bisa lagi berkata,
tapi tentang bagaimana mereka yang menyediakan pundaknya untuk kamu peluk ketika hatimu pilu tak biasa
Bukan soal mereka yang bisa bersenang-senang sesuka hati denganmu,
tapi tentang bagaimana mereka yang bisa menuju ketaan kepada-Nya bersamamu
Salam hangat dari derasnya hujan di bulan Desember,
Zita

Comments
Post a Comment