Kadang terbesit di benakku bayang-bayangmu ketika rindu.
Tapi aku paham, ada yang namanya kesabaran itu diuji.
Ketika rindu itu menguap bagai kepulan asap, aku pegang hatiku erat-erat agar ia tak jatuh ke dalamnya. Karena aku takut.
Takut hati ini rindu pada semua kenangan.
Takut ia tak lagi kokoh menyimpan semua rahasia.
Namun aku selalu bertanya.
Mengapa Ia bisa begitu menumbuhkan rasa sakit ketika kamu pergi?
Mengapa Allah relakan aku hadapi pertemuan singkat ini denganmu?
Mengapa Ia buat aku rasakan pedihnya sakit hati?
Tapi aku tahu, ada yang namanya keikhlasan.
Kamu mungkin lihat aku terdiam.
Tapi dalam diri ini ada sesuatu yang membuncah ketika kala itu kamu pergi.
Kamu mungkin lihat aku tak peduli.
Tapi selalu ada namamu dalam setiap doaku yang aku lantunkan tanpa henti.
Karena aku menerima.
Menerima segala ketetapan-Nya.
Entah salah satunya adalah bertemu denganmu ataupun berpisah denganmu.
Tapi kemudian aku sadar, bahwa selama ini bukanlah Ia yang aku jadikan sandaran.
Bukanlah Ia yang aku benar-benar khawatirkan ketika aku salah.
Dan aku kini paham, bahwa Ia sangat mencintaiku dan bodohnya aku tak pernah mengakuinya.
Jadi mungkin inilah cara agar Ia ingin aku kembali mencintaiNya.
Karena aku telah salah memilih jalan dan Ia tumbuhkan rasa sakit itu agar aku sadar bahwa Ialah yang sesungguhnya menjadi tempat sandaran.
Ialah yang benar-benar bisa menyembuhkan hati, peniup luka dan pemberi kasih untuk setiap makhluknya.
Dan bila memang Ia rencanakan aku dan kamu untuk bersua kembali, maka itulah salah satu rencana besarNya.
Bila memang bukan takdirnya aku dan kamu bersama, maka selalu ada rencana indah lainnya yang Ia siapkan untukmu dan aku.
Karena Ialah sesungguhnya Pemilik Hati dan hanya padaNya hati kita akan kembali.
Salam hangat,
Zita
Jangan lupa deadline KIR-nya teman-teman .... ((ngomong sama udara))
Comments
Post a Comment