Skip to main content

Being A Woman with Hijab | Beropini #1

Akhir-akhir ini televisi ngga ada habis-habisnya menayangkan berita-berita yang rasanya bikin pengin elus dada terus untuk bersabar. Termasuk internet juga. Headline-headline yang sebenarnya kalau kita kaji lagi pun justru it doesn't make us proud to be the part of this country (maybe, cause it's just my opinion so it can be right or wrong). Mulai dari isu politik yang (lagi-lagi) tidak ada habisnya, masalah sosial, sampai dunia entertainment yang memang lagi sedap-sedapnya menyuapi society kita yang kita sendiri sebagai penikmat berita nggak tahu kebenaran dari berita-berita tersebut.

Ups, padahal bahasan kali ini bukan tentang itu. Lanjut move on aja, yuk.

Semenjak masuk SMA ini, dan bahkan sampai senior year sekalipun, ada banyak hal yang berubah secara signifikan dari apa yang terjadi dari masa aku sebelum seperti ini. Dari cara berpikir, bertindak, membuat keputusan sampai cara bermuhasabah sekalipun, semuanya sudah beda. Banyak faktor yang jelas mempengaruhi dari bagaimana kita bisa berubah, kan? Mulai dari faktor bertambahnya umur, dari bagaimana kita hidup di dalam suatu lingkungan, orang-orang yang mengelilingi dan hidup bersaman kita, sampai proses me time yang akhirnya mengubah pandangan dan mindset kita dalam to pursue what's we want to reach in the future. Kemudian ada satu hal yang membuatku berpikir akhir-akhir ini adalah tentang bagaimana perubahan-perubahan itu membuat aku merasa menjadi orang yang lebih baik. Hidup di lingkungan (baik di sekolah, rumah dan di society sekalipun) membuat aku perlahan-lahan merubah cara berpikir aku tentang bagaimana aku berpakaian.

Believe it or not, sebelum seperti sekarang, pakaian bernama rok pun aku ngga punya karena ke mana-mana yang dipakai ya celana jeans, apalagi tren pada saat itu jeans yang ketat yang agar bentuk kakinya terlihat, yang semakin ketat celananya bentuk kakinya bakal semakin bagus. kaos kaki hanya dipakai saat ke sekolah dan kerudung panjang hanya dipakai untuk formalitas ke sekolah. Kerudung untuk keluar dan main pun hanya digulung-gulung karena tren fashion pada saat itu ya krudung yang dimodel-model. Dan sekali lagi, proses aku menjalani masa SMA juga mempengaruhi dari cara aku berpakaian. Melihat lingkungan di mana aku menghabiskan masa senior yearku yang sebagian pun ada yang bertahan dengan hijab syar'inya mejadikan aku berpikir bahwa mereka hebat banget kan, tahan banting dengan dunia luar tentang bagaimana pandangan orang-orang awam tentang contoh klise "ngapain sih, ke warung aja pake ribet harus pake rok, ke pasar aja harus pakai kaos kaki, ribetnya, memang nggak risih ya?" Makanya setelah itu aku berpikir, ya jadi seorang wanita apalagi yang sampai detik ini mempertahankan hijab syar'inya itu ngga mudah karena yang orang lihat pertama kali adalah appearance kita and about how do we look. Yang aku bahkan sampai saat ini belum habis pikir, wanita pakai pakaian panjang sedikit aja dikatain ini, pakai baju tertutup sekalipun dikatain itu atau nggak dilihatin dengan cara pandang yang kita pun ngga bisa mendeskripsikan kecuali orang itu sendiri. Kayak, emang kalau kita liat pertama kali orang-orang tersebut punya cara berpakaian yang berbeda dari kita, memangnya orang-orang tersebut aneh? Dan akhirnya pun banyak wanita yang lebih mementingkan dan peduli tentang bagaimana mereka terlihat baik dan "sama" di society instead of making their personality to be better.

Dan hal lainnya adalah ketika banyak sindiran untuk wanita-wanita yang belum berhijab syar'i sekalipun. Kemarin-kemarin sempat baca beberapa postingan di internet yang mungkin maksudnya untuk mengajak wanita-wanita yang belum berhijab syar'i untuk segera berhijab syar'i. Tapi menurut aku sekalipun, kenapa bentuknya haru sindiran yang intinya adalah kita sebagai wanita jangan berharap untuk bisa eksis kalau sudah berhijab syar'i. Maksud eksis di sini mungkin adalah untuk memamerkan foto-fotonya di media sosial. Oke, seperti tadi, mungkin maksudnya baik, ingin mengajak, but we have another option untuk mengajak seseorang untuk menjadi lebih baik. Toh, ketika dengan cara yang baik pun kita bisa, kenapa harus dengan tamparan seperti itu? Kan sudah alhamdulillah juga wanita-wanita (yang sudah berhijab tetapi mungkin belum syar'i) sudah punya keyakinan bahwa menutup aurat itu wajib, walaupun prosesnya masih belum sampai ke syar'i, karena proses itu sendiri kan ngga instan dan ngga mudah dan harus tahan banting. Baiknya adalah ayolah kita ajak bersama-sama dan saling mengingatkan satu sama lain atau dengan saling berbagi advice-advice yang bisa membangun, bukan sindiran ataupun tamparan yang dibalut dengan embel-embel untuk mengingatkan.

Hal selanjutnya adalah based on my experience tentang sudah menuju syar'i tapi dapat omongan-omongan orang yang ngga mengenakkan. Saat itu pernah dibilangin seseorang (yang to be honest ngga usah disebut lah ya namanya) bahwa percuma pakaiannya syar'i, pakaiannya panjang-panjang kalau perbuatannya aja masih jelek. Terus setelah itu nangis. Ngga ding, ya setelah itu berpikir aja. Apa, sih korelasi antara sudah ataupun menuju berhijab syar'i dengan perbuatan baik? Kalau orangnya  tabiatnya buruk sekalipun, yaudah tinggal salahin orangnya, kan? Tinggal kasih tahu aja kalau yang kita lakukan salah dan ngga harus bawa-bawa hijabnya. Seakan-akan wanita yang berhijab itu sudah sempurna banget akhlaknya, sudah sangat terhindar dari dosa. Seakan-akan wanita-wanita yang berhijab syar'i sekalipun ia ngga pernah luput dari kesalahan. Perhaps yes, wanita yang sudah sangat faham dengan ajarannya pasti berhijab syar'i dan bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Lantas, apakah kita yang sedang mencoba merubah menjadi lebih baik dengan memperbaiki cara berpakaian kita juga sudah pasti ilmunya sangat baik? Toh, kita juga sedang mencoba untuk menjalankan apa yang sebenarnya diperintahkan, kok. Karena ketika manusia lupa pun, ia juga pasti bisa melakukan kesalahan kan.

So, what we have to do now? Apakah lantas kita semua harus terus menutup diri agar orang-orang tidak menatap kita dengan cara tatap yang aneh? Apakah lantas kita harus merasa down karena sudah memilih proses ini, ataupun karena sindiran dan tamparan menusuk dari orang-orang? Tidak boleh eksis padahal we have our own kind of "eksis" itself and indeed kita sendiri bisa memberikan kontribusi untuk mengajak orang lain menjadi lebih baik? Don't get me wrong because sekalipun kita berhijab syar'i ataupun tidak, pasti ada orang-orang yang memperlakukan kita dengan baik ataupun dengan tidak baik.

So, my view on this problem is, please stop staring at us dengan pandangan-pandangan yang seakan-akan kitalah orang-orang yang membuat dunia menjadi lebih aneh. Stop judge us at the first time you see us. Don't make a fast conclusion that we are not a kind people and will threaten you because there is no relation between a hijab and crime. And we are asking about your respect and your support to give advice and remind each other di jalan dan proses yang sudah kita pilih. Asking the society to change their mindset tentang wanita-wanita yang sedang ataupun sudah berhijab syar'i, asking them to respect us more karena kita hanya menajalankan apa yang sudah diperintahkan dan sebaik-baik manusia adalah ia yang selalu belajar untuk memperbaiki dirinya.






Semangat untuk menjadi lebih baik.


Comments

Popular posts from this blog

What a Year Has Taught Me

At the first time when I taught about what happiness means, it always gonna be, "It would be really amazing when things always go right." not because it's just always happiness that we feel, not always a blooming flowers that we see from afar, or just a warm jasmine tea that we always drink when it's a fully rainy day. When it comes to the time when I think about what happiness means, I always get a different meaning and perspectives.  When it came to my arrival at home in the last October, I was very ready to go back to my childhood memory, to go every side of this small city, to feel the breeze in the morning and every evening, to go to every places that has already been part of my childhood memories. Memorizing and reminiscing the feel when it comes to laugh hard with old friends, when it goes to do gardening with mom and harvesting her plants also comes to go a long night ride with my father. At that time, what happiness means to me was redoing every part of my ch...

Terus Belajar

Pengalaman adalah guru terbaik Alhamdulillah tanggal 14-16 Maret 2016 kemarin kami semua sukses mengadakan acara PLM yang memang dirancang sebagai program khusus tahunan. Kalau dipikir-pikir acara-acara seperti ini harusnya dilakukan tiap hari saja //HMMM// agar lelah itu bisa terasa sangat menyenangkan. Karena seperti aku, anak yang lebih suka bermain di luar, ketika tiba-tiba disuruh belajar di dalam ruangan tanpa camilan dan mainan kemudian hanya diberi buku dan soal latihan, lebih baik duduk selonjoran sambil mendengarkan lagunya Ed Sheeran. Yang ada bukannya selesai belajar, malah lebih cepat tertidur pulas (Tapi lagu-lagu Ed Sheeran overall favoritku semua kok). Jadi, seperti postingan PLM tahun lalu (yang belum baca bisa cek di sini ya  http://zitarifdani.blogspot.co.id/2015/03/that-i-had-best-day.html  ) acara PLM tahun ini juga alhamdulillah masih tetap sama, ada SMAIT Mengajar, sembako murah (atau gratis ya?), memasak, bazar pakaian pantas ...

I Had The Best Day

Jadi, tanggal 9 sampai 11 Maret 2015 kemarin di Karangrau Banyumas, tepatnya hari Senin sampai Rabu, aku dan teman-teman kelas 10 dan kelas 11 mengikuti kegiatan PLM atau singkatan dari Pengenalan Lingkungan Masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan pas kakak-kakak kelas 12 menjalani UAS (eh apa US ya?)(Bedanya apa toh? Aku nda ngerti). Karena di postingan sebelumnya aku belum mengorek sedikitpun tentang kegiatan ini, soalnya kan postingan kemarin aku bikin puisi galau gitu yang sebenarnya aku pun masih mikir apa sih manfaatnya? HAHA Anyone feel me. Tapi ngga apa-apa kok, kan namanya berkarya, dalam keadaan apapun aku selalu write them down, all of them, mau itu sedih, senang, atau pun flat. . . Jadi kembali lagi. . . Kalo postingannya dibuat berjeda-jeda bikin penasaran ngga . . Haha, jangan kzl ya . . Nah, ada beberapa kegiatan di acara PLM ini. Buat yang putri itu mengajar dan memasak, terus buat yang putra itu bangun rumah. Dan aku kebagian kegiatan me...