Akhir-akhir ini televisi ngga ada habis-habisnya menayangkan berita-berita yang rasanya bikin pengin elus dada terus untuk bersabar. Termasuk internet juga. Headline-headline yang sebenarnya kalau kita kaji lagi pun justru it doesn't make us proud to be the part of this country (maybe, cause it's just my opinion so it can be right or wrong). Mulai dari isu politik yang (lagi-lagi) tidak ada habisnya, masalah sosial, sampai dunia entertainment yang memang lagi sedap-sedapnya menyuapi society kita yang kita sendiri sebagai penikmat berita nggak tahu kebenaran dari berita-berita tersebut.
Ups, padahal bahasan kali ini bukan tentang itu. Lanjut move on aja, yuk.
Semenjak masuk SMA ini, dan bahkan sampai senior year sekalipun, ada banyak hal yang berubah secara signifikan dari apa yang terjadi dari masa aku sebelum seperti ini. Dari cara berpikir, bertindak, membuat keputusan sampai cara bermuhasabah sekalipun, semuanya sudah beda. Banyak faktor yang jelas mempengaruhi dari bagaimana kita bisa berubah, kan? Mulai dari faktor bertambahnya umur, dari bagaimana kita hidup di dalam suatu lingkungan, orang-orang yang mengelilingi dan hidup bersaman kita, sampai proses me time yang akhirnya mengubah pandangan dan mindset kita dalam to pursue what's we want to reach in the future. Kemudian ada satu hal yang membuatku berpikir akhir-akhir ini adalah tentang bagaimana perubahan-perubahan itu membuat aku merasa menjadi orang yang lebih baik. Hidup di lingkungan (baik di sekolah, rumah dan di society sekalipun) membuat aku perlahan-lahan merubah cara berpikir aku tentang bagaimana aku berpakaian.
Believe it or not, sebelum seperti sekarang, pakaian bernama rok pun aku ngga punya karena ke mana-mana yang dipakai ya celana jeans, apalagi tren pada saat itu jeans yang ketat yang agar bentuk kakinya terlihat, yang semakin ketat celananya bentuk kakinya bakal semakin bagus. kaos kaki hanya dipakai saat ke sekolah dan kerudung panjang hanya dipakai untuk formalitas ke sekolah. Kerudung untuk keluar dan main pun hanya digulung-gulung karena tren fashion pada saat itu ya krudung yang dimodel-model. Dan sekali lagi, proses aku menjalani masa SMA juga mempengaruhi dari cara aku berpakaian. Melihat lingkungan di mana aku menghabiskan masa senior yearku yang sebagian pun ada yang bertahan dengan hijab syar'inya mejadikan aku berpikir bahwa mereka hebat banget kan, tahan banting dengan dunia luar tentang bagaimana pandangan orang-orang awam tentang contoh klise "ngapain sih, ke warung aja pake ribet harus pake rok, ke pasar aja harus pakai kaos kaki, ribetnya, memang nggak risih ya?" Makanya setelah itu aku berpikir, ya jadi seorang wanita apalagi yang sampai detik ini mempertahankan hijab syar'inya itu ngga mudah karena yang orang lihat pertama kali adalah appearance kita and about how do we look. Yang aku bahkan sampai saat ini belum habis pikir, wanita pakai pakaian panjang sedikit aja dikatain ini, pakai baju tertutup sekalipun dikatain itu atau nggak dilihatin dengan cara pandang yang kita pun ngga bisa mendeskripsikan kecuali orang itu sendiri. Kayak, emang kalau kita liat pertama kali orang-orang tersebut punya cara berpakaian yang berbeda dari kita, memangnya orang-orang tersebut aneh? Dan akhirnya pun banyak wanita yang lebih mementingkan dan peduli tentang bagaimana mereka terlihat baik dan "sama" di society instead of making their personality to be better.
Dan hal lainnya adalah ketika banyak sindiran untuk wanita-wanita yang belum berhijab syar'i sekalipun. Kemarin-kemarin sempat baca beberapa postingan di internet yang mungkin maksudnya untuk mengajak wanita-wanita yang belum berhijab syar'i untuk segera berhijab syar'i. Tapi menurut aku sekalipun, kenapa bentuknya haru sindiran yang intinya adalah kita sebagai wanita jangan berharap untuk bisa eksis kalau sudah berhijab syar'i. Maksud eksis di sini mungkin adalah untuk memamerkan foto-fotonya di media sosial. Oke, seperti tadi, mungkin maksudnya baik, ingin mengajak, but we have another option untuk mengajak seseorang untuk menjadi lebih baik. Toh, ketika dengan cara yang baik pun kita bisa, kenapa harus dengan tamparan seperti itu? Kan sudah alhamdulillah juga wanita-wanita (yang sudah berhijab tetapi mungkin belum syar'i) sudah punya keyakinan bahwa menutup aurat itu wajib, walaupun prosesnya masih belum sampai ke syar'i, karena proses itu sendiri kan ngga instan dan ngga mudah dan harus tahan banting. Baiknya adalah ayolah kita ajak bersama-sama dan saling mengingatkan satu sama lain atau dengan saling berbagi advice-advice yang bisa membangun, bukan sindiran ataupun tamparan yang dibalut dengan embel-embel untuk mengingatkan.
Hal selanjutnya adalah based on my experience tentang sudah menuju syar'i tapi dapat omongan-omongan orang yang ngga mengenakkan. Saat itu pernah dibilangin seseorang (yang to be honest ngga usah disebut lah ya namanya) bahwa percuma pakaiannya syar'i, pakaiannya panjang-panjang kalau perbuatannya aja masih jelek. Terus setelah itu nangis. Ngga ding, ya setelah itu berpikir aja. Apa, sih korelasi antara sudah ataupun menuju berhijab syar'i dengan perbuatan baik? Kalau orangnya tabiatnya buruk sekalipun, yaudah tinggal salahin orangnya, kan? Tinggal kasih tahu aja kalau yang kita lakukan salah dan ngga harus bawa-bawa hijabnya. Seakan-akan wanita yang berhijab itu sudah sempurna banget akhlaknya, sudah sangat terhindar dari dosa. Seakan-akan wanita-wanita yang berhijab syar'i sekalipun ia ngga pernah luput dari kesalahan. Perhaps yes, wanita yang sudah sangat faham dengan ajarannya pasti berhijab syar'i dan bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Lantas, apakah kita yang sedang mencoba merubah menjadi lebih baik dengan memperbaiki cara berpakaian kita juga sudah pasti ilmunya sangat baik? Toh, kita juga sedang mencoba untuk menjalankan apa yang sebenarnya diperintahkan, kok. Karena ketika manusia lupa pun, ia juga pasti bisa melakukan kesalahan kan.
So, what we have to do now? Apakah lantas kita semua harus terus menutup diri agar orang-orang tidak menatap kita dengan cara tatap yang aneh? Apakah lantas kita harus merasa down karena sudah memilih proses ini, ataupun karena sindiran dan tamparan menusuk dari orang-orang? Tidak boleh eksis padahal we have our own kind of "eksis" itself and indeed kita sendiri bisa memberikan kontribusi untuk mengajak orang lain menjadi lebih baik? Don't get me wrong because sekalipun kita berhijab syar'i ataupun tidak, pasti ada orang-orang yang memperlakukan kita dengan baik ataupun dengan tidak baik.
So, my view on this problem is, please stop staring at us dengan pandangan-pandangan yang seakan-akan kitalah orang-orang yang membuat dunia menjadi lebih aneh. Stop judge us at the first time you see us. Don't make a fast conclusion that we are not a kind people and will threaten you because there is no relation between a hijab and crime. And we are asking about your respect and your support to give advice and remind each other di jalan dan proses yang sudah kita pilih. Asking the society to change their mindset tentang wanita-wanita yang sedang ataupun sudah berhijab syar'i, asking them to respect us more karena kita hanya menajalankan apa yang sudah diperintahkan dan sebaik-baik manusia adalah ia yang selalu belajar untuk memperbaiki dirinya.
Semangat untuk menjadi lebih baik.
Comments
Post a Comment