Skip to main content

Balada Mimpi-mimpi Zita

Sekitar sebulan yang lalu akhirnya aku resmi lulus SMA. Rasanya? Wah, senang, sedih, terharu semuanya campur jadi satu. Kegembiraan untuk akhirnya akan  menjadi mahasiswa, kata “maha” yang berarti aku sudah harus bisa lebih baik daripada menjadi siswa, dan yang berarti adalah tingkat tertinggi dari menjadi siswa. Sedih? Aku cukup sedih Karena harus meninggalkan teman-teman, sekolah yang aku entah kenapa nggga pernah bosan untuk berada di sana, 12 tahun sekolah di bawah yayasan yang sama, dari SD-SMA yang sebenarnya ya teman-temannya kebanyakan ya itu-itu saja, tapi aku ngga pernah bosan! Guru-guru yang baik, mereka yang sangat pengertian dan kadang iklas untuk direse-in, ngga tahu lagi akan menemukan guru seperti mereka di mana lagi. Terharu? Wah, ngga bisa dibayangin, kelas 12 men, kami yang istilahnya dispesialkan, diistimewakan dan mungkin yang paling banyak memenuhi pikiran guru-guru, digenjot habis-habisan, diforsir tenaga, jam tidur, otak, dan uang jajannya untuk mengikuti pelajaran regular, bimbel sore, lalu bimbel malam, sampai mandi sore di sekolah, sholat dhuhur sampai sholat isya juga jama’ah di sekolah, ada ngga sih, sekolah lain yang kayak gini? Wah gatau deh. Try Out? Simulasi? Sampai otak nih kayaknya sumpek. Tapi, itu semua balik lagi. Masa-masa kelas 12 itu memang yang paling bikin “wah” dari masa-masa di SMA. Di mana kita pengin cepet-cepet lulus tapi ngga pengin cepet-cepet pisah sama temen-temen.

Jadi, urutannya adalah UN, SNMPTN, (kalau aku) USM STAN, (dan teman-teman yang lain ada yang) SBMPTN, UM, dan ujian masuk universitas lainnya.

Kalau kata orang, UN mah udah pasti lulus atau kasarnya udah pasti dilulusin. Karena kelulusan sekarang emang ngga murni 100% dari UN. Apalagi sekarang masih ada sekolah yang pakai kur2006 sama ada yang udah pakai kurtilas yang menurut aku soalnya dan mungkin tingkat kesulitannya juga beda. Terus ada yang udah pakai computer based test dan masih ada yang pakai paper. Kalau menurut aku memang lebih enak pakai paper tapi kalau listening emang enakkan pakai CBT (maunya banyak, dasar wanita)

Dulu, sebelum akhirnya ada kebijakan UN boleh milih, aku sampai kewalahan belajar geografi, ekonomi, dan sosiologi. Apalagi aku ngga bisa ketiganya hahaha. Tapi mau ngga mau harus dipelajarin biar lulus nyeh. Mungkin angkatan-angkatan di atasku juga merasakan hal yang sama. Apalagi pelajaran sejarah juga akhirnya masuk ke USBN. Luar biasa. (Buat orang-orang yang menunderastimate dan bilang IPS mah gampang apalagi bilangnya IPS mah isinya anak-anak yang ngga mampu belajar IPA, stop being a narrow thinker ya)

Akhirnya, setelah ada kebijakan dari tiga mapel tersebut boleh dipilih salah satu, akhirnya aku pilih sosiologi. Ngga tahu deh, sosiologi di SMA tuh rasanya ya susah juga hahaha. Seriusnya, aku ngga bisa ekonomi. Beneran. Akuntansi, debit-kredit, jurnal pembayaran segala macem, aku ngga bisa. Walau udah belajar tiga tahun sekali pun, aku ngga bisa. Nangis karena ngerasa bego banget? Pernah. Sampai setiap bimbel aku tanya ke guru ekonomi pun aku ngga bisa. Yang lebih bahayanya, karena UN pilihanku sosiologi, alhasil ekonomi jadi mapel USBN buat aku, which is USBN pakai essay. Kalau ditanya, kok USBN bisa ngerjain? Hahaha gatau deh. Kalau udah begini, rezeki Allah aja yang bicara.

Nah, sebelum pengumuman UN, ada pengumuman SNMPTN dulu. Deg-degan? Iya. Pesimis? Iya. Bahkan aku udah bilang sama bapakku, “Pa, kalau zita ngga lolos snm, nanti sore langsung daftar bimbel buat sbm ya. Zita ngga mau nyoba univ lain lagi, mau di Purwokerto aja.” dan Bapak langsung nge iyain aja.

Kemarin, pengumuman SNM itu jam 2 siang. Jadi sesuai rencana, jam 3 habis ashar mau langsung daftar bimbel. Waktu itu habis sholat dhuhur dan makan siang di rumah, aku langsung nyalain laptop, waktu itu Cuma ada aku dan Bapak di rumah, sama ada budhe juga. Pas udah mau jam 2 siang, nih hati udah deg-degan beneran, kenceng banget. Karena aku di satu sisi juga harus siap ngga keterima dan harus belajar sbm yang kisaran waktunya tinggal 3 minggu lagi. Waktu temen-temen udah pada buka dan yang keterima snm langsung ngasih tahu di grup kelas, aku pada saat itu masih belum buka. Beneran, takut banget. Karena yang aku pilih ngga main-main dan kemungkinan besar aku ngga diterima.

Tapi mau ngga mau aku buka dong pengumumannya. Waktu itu buka lewat web snm nya gabisa, karena webnya crowded apa overload gitu, saking emang banyak banget yang buka webnya. Akhirnya aku buka pakai link yang nyambung ke link snm UNDIP which is univ yang aku pilih buat lolos di jalur SNMPTN. Dan akhirnya bisa dibuka. Terus aku scroll ke bawah buat lihat pengumumannya, dapat kata maaf atau kata selamat. Dapat kotak hijau atau kotak merah.






Aku end up langsung nangis, jantung kayak mau copot.





Rifdani Zitananda diterima di pilihan pertama.
Ilmu Hukum Universitas Diponegoro.






Aku terharu banget, nangis dan langsung lari dan meluk bapak, sampai nggak percayanya, akhirnya aku lihat pengumuman lagi pakai link web yang lain, memastikan bahwa itu benar-benar rifdani yang aku, bukan yang lain. Universitas impianku yang dulu cuma aku tempel dan tulis pakai sticky note terus aku cari gambar gedung FH UNDIP di google images lalu aku jadikan sebagai background profil line ku, aku ngga punya ekspektasi apa-apa selain “Masha Allah, alhamdulillah…”

Hebringnya udah selesai, lalu sekitar satu-dua minggu setelahnya baru pengumuman UN. Kalau aku rasa, temen-temen dan aku pada saat itu ngga se excited saat pengumuman SNMPTN, justru kelihatannya saat pengumuman UN malah lebih santai, ya ngga tahu sih, mungkin memang lebih mendebarkan pengumuman snm.

Pada saat snm, sebenarnya sudah kelihatan dan kami semua udah bisa menerka siapa-siapanya yang akan dapat peringkat tiga besar di UN. Tapi, balik lagi, kami semua selalu diingatkan, kita semua ngga tahu sampai pengumuman benar-benar diucapkan (ih konteks “diucapkan” ngga enak banget ya hahaha) oleh waka binpres (kalau ngga salah, habisnya beliau sekarang sudah naik pangkat jadi kepsek sih hahaha).

Semuanya menerka-nerka dan harap-harap cemas dan alhamdulillah semuanya lolos 100%. Pada saat itu riuh banget dan deg-degan siapa yang akan dapat peringkat tiga besar baik IPA maupun IPS. Dan alhamdulillahnya, peringkat sekolah juga tetap masuk 10 besar se kabupaten, dan mapel pilihan si peringkat satu IPA juga dapat peringkat berapa ya pokoknya bagus dan sangat membanggakan se provinsi.

Zita? Alhamdulillah, masuk tiga besar. Dan bapak diberi kehormatan untuk menyampaikan speech mewakili orang tua wisudawan lainnya saat wisuda kelulusan.

Senang? Iya. Bangga? Iya, akhirnya orangtuaku bisa duduk di depan dengan orang tua peringkat satu sampai tiga lainnya. Terharu? Iya, sampai berpikir, Maha Besar Allah, Zita berbuat apa sampai Allah baik sekali, sampai Allah benar-benar bikin Zita takjub dengan kuasanya.

Buat temen-temen yang berpikir, “Ah Zita gitu aja dipamerin, gitu aja disombongin.”

Karena pada akhirnya, di sini aku hanya ingin bilang, kekuatan doa, usaha dan ikhtiar itu memang ngga pernah ada yang mengalahkan. Benar, aku ngga bisa beberapa pelajaran, aku kesusahan, dan aku bego banget dan merasa bodoh karena teman-temanku bisa, tapi aku ngga bisa. Tapi lantas ketidak bisaanku tersebut ngga membuat aku jadi ogah-ogahan untuk belajar. Ngga terhitung berapa malam aku sisakan untuk belajar untuk mengerti hal-hal yan memang ngga aku pahami, walau pada akhirnya memang capek. Aku ngga muna, setiap aku ngga bisa aku memang mengeluh, mengeluh kenapa kok susah banget dan akunya bego banget. Nangis, kenapa rasanya tuh masa-masa itu pengin aku skip aja. Pengin rasanya ngga UN, pengin rasanya ngga usah ada snm. Ngga terhitung berapa kali aku merepotkan orang-orang di sekitarku hanya untuk minta cara dan penjelasan dari soal-soal yang aku ngga bisa kerjakan. Entah berapa kali aku menolak diajak main, padahal pengin banget main bareng temen-temen dan memilih untuk me time atau quality time bareng keluarga.

Ngga terhitung berapa kali aku bilang ke teman-teman, “Kita saling mendoakan ya, biar sama-sama sukses.”. Entah berapa kali aku yakinin ke diri sendiri untuk ngga punya ekspektasi sedikit pun, untuk ngga berharap terlalu tinggi dan membiarkan Allah aja yang mengatur segala hal.

Karena ditolak universitas itu sebegitu menyakitkannya (dulu aku sempat di tolak salah satu PTS di Jogja saat tes PMB PTS tersebut di bulan Februari).

Dan akhirnya apa? Semuanya terbayar.

Buat adik-adik kelas(ku), baik kalian yang membaca postingan ini ataupun yang tidak, masa-masa terakhir di SMA memang paling berat sekaligus paling berharga dan menyenangkan. Masa-masa ini ngga akan terasa karena nanti tahu-tahu udah lulus aja padahal nanti bakalan kangen banget sama temen-temen kalian. Tetap berjuang, jangan punya stereotip “ngga bisa”. Karena balik lagi, ada yang memang berjuangnya sampai SNM, ada yang ditunda sampai SBM bahkan ada yang diharuskan sabar sampai UM atau ujian masuk perguruan tinggi yang lainnya. Di sini kita sama-sama dilatih mentalnya untuk jadi lebih kuat.




NB : Untuk bagian USM PKN STAN aku buat postingan khusus di part 2 (mungkin) setelah ada waktu luang dan kesempatan hehehe





Tetap semangat,

Zita : )


Comments

  1. Menarik, sangat menarik juga sih👍. Haha keren bagus lahh, masa masa yg sangat menyenangkan😁

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

What a Year Has Taught Me

At the first time when I taught about what happiness means, it always gonna be, "It would be really amazing when things always go right." not because it's just always happiness that we feel, not always a blooming flowers that we see from afar, or just a warm jasmine tea that we always drink when it's a fully rainy day. When it comes to the time when I think about what happiness means, I always get a different meaning and perspectives.  When it came to my arrival at home in the last October, I was very ready to go back to my childhood memory, to go every side of this small city, to feel the breeze in the morning and every evening, to go to every places that has already been part of my childhood memories. Memorizing and reminiscing the feel when it comes to laugh hard with old friends, when it goes to do gardening with mom and harvesting her plants also comes to go a long night ride with my father. At that time, what happiness means to me was redoing every part of my ch...

Terus Belajar

Pengalaman adalah guru terbaik Alhamdulillah tanggal 14-16 Maret 2016 kemarin kami semua sukses mengadakan acara PLM yang memang dirancang sebagai program khusus tahunan. Kalau dipikir-pikir acara-acara seperti ini harusnya dilakukan tiap hari saja //HMMM// agar lelah itu bisa terasa sangat menyenangkan. Karena seperti aku, anak yang lebih suka bermain di luar, ketika tiba-tiba disuruh belajar di dalam ruangan tanpa camilan dan mainan kemudian hanya diberi buku dan soal latihan, lebih baik duduk selonjoran sambil mendengarkan lagunya Ed Sheeran. Yang ada bukannya selesai belajar, malah lebih cepat tertidur pulas (Tapi lagu-lagu Ed Sheeran overall favoritku semua kok). Jadi, seperti postingan PLM tahun lalu (yang belum baca bisa cek di sini ya  http://zitarifdani.blogspot.co.id/2015/03/that-i-had-best-day.html  ) acara PLM tahun ini juga alhamdulillah masih tetap sama, ada SMAIT Mengajar, sembako murah (atau gratis ya?), memasak, bazar pakaian pantas ...

I Had The Best Day

Jadi, tanggal 9 sampai 11 Maret 2015 kemarin di Karangrau Banyumas, tepatnya hari Senin sampai Rabu, aku dan teman-teman kelas 10 dan kelas 11 mengikuti kegiatan PLM atau singkatan dari Pengenalan Lingkungan Masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan pas kakak-kakak kelas 12 menjalani UAS (eh apa US ya?)(Bedanya apa toh? Aku nda ngerti). Karena di postingan sebelumnya aku belum mengorek sedikitpun tentang kegiatan ini, soalnya kan postingan kemarin aku bikin puisi galau gitu yang sebenarnya aku pun masih mikir apa sih manfaatnya? HAHA Anyone feel me. Tapi ngga apa-apa kok, kan namanya berkarya, dalam keadaan apapun aku selalu write them down, all of them, mau itu sedih, senang, atau pun flat. . . Jadi kembali lagi. . . Kalo postingannya dibuat berjeda-jeda bikin penasaran ngga . . Haha, jangan kzl ya . . Nah, ada beberapa kegiatan di acara PLM ini. Buat yang putri itu mengajar dan memasak, terus buat yang putra itu bangun rumah. Dan aku kebagian kegiatan me...