Assalamualaikum teman-teman.
Wah sudah lama sekali aku ngga menulis di sini. Ayo kita bersama-sama bersih-bersih blog yang berdebu dan penuh jamur ini hehehe.
Sepertinya di postingan sebelumnya tentang Balada Mimpi-mimpi Zita (buat teman-teman yang belum baca, bisa baca di sini ya) aku sudah berjanji (ngga berjanji juga sih, tapi kalau sempat untuk menulis aja hahaha) untuk menuliskan tentang pengalamanku mengikuti salah satu pendaftaran salah satu perguruan tinggi kedinasan, yaitu USM PKN STAN.
Nah, setelah balada-balada USM yang katanya susah dan ternyata setelah dijalani ternyata memang susah, karena waktu itu daftar USM murni karena disuruh oleh orang tua, jadi daftar aja dan yaudah belajar dalam waktu yang mepet banget (hahaha ngga nyambung sama konteks sebelumnya ya). Bilangnya buat jaga-jaga kalau memang mutlak ngga diterima di PTN (atau PTS). Tapi nyatanya, daftar USM PKN STAN aja dari awal sudah butuh perjuangan dan sudah bikin capek, pemirsa. Dari proses verifikasi berkas-seleksi tahap 1-seleksi tahap 2-seleksi tahap 3-daftar ulang. Tapi senangnya, bisa ada waktu bolos sama waktu buat jalan-jalan ke sekitaran Jogja (memang selalu ada udang dibalik batu). Sampai saat itu bisa sempet-sempetnya beli oleh-oleh setelah selesai verifikasi berkas, lalu ngemall di Hartono Mall sama Mba Ghina setelah selesai tes tahap 1, dilanjut ngemall ke Malioboro setelah seleksi tahap 2 dan ke Artjog setelah seleksi tahap 3, instead of sebenarnya bisa langsung pulang aja ke Purwokerto.
Kalau diingat lagi, jadi tambah setuju sama ayat di QS Ar-Rahman, "So which of the favors of your Lord would you deny?"
Kalau diingat lagi, jadi tambah setuju sama ayat di QS Ar-Rahman, "So which of the favors of your Lord would you deny?"
Lalu, selama proses seleksi tersebut, aku selalu ditemani Ibuk, jadi Ibuk sampai cuti lalu bolos, karena cutinya sisa sedikit. Maaf juga ya, anaknya suka ngemall, keahliannya cuma bisa ngabisin duit.
Akhirnya, setelah berbagai proses yang melelahkan, dengan berbagai pertimbangan, diskusi, dan doa yang tidak pernah putus akan permintaan tentang kebimbangan (cielah bacanya geli ya hahaha), atas izin Allah dan ridho orangtua serta doa dari teman-teman semua, Zita terdampar di sini, di Bintaro, tempat di mana kampus PKN STAN berada. Kalau ditanya, awalnya berat, ngga untuk melepas apa yang sebenarnya paling kita inginkan? Jawabannya jelas berat banget. Apalagi saat melepas UNDIP posisinya sudah daftar ulang dan punya banyak temen di sana, tapi sinkatnya terus yaudah akhirnya aku menfokuskan diri untuk mengurus segala hal yang menjadi persyaratan di sini.
Kalau udah begini, jadi ingat kata Allah di QS Al-Baqarah ayat 216, ""... But perhaps you hate a thing and it's good for you ; and perhaps you love a thing and it's bad for you. And Allah Knows, while you know not."
Nah, yang di atas intermezzo aja ya hehehe.
Bahasan utamanya di sini adalah, aku baru sadar bahwa ketika USM itu sulit, ternyata ada yang lebih sulit, yaitu UTS. Sulit karena cara belajarku yang salah, cara belajar yang memang hanya belajar kalau besoknya ada kuis, belajar yang hanya kalau ada tugas dan kalau mau presentasi aja.
Ternyata cara belajar seperti itu ngga sehat dan ngga baik, pemirsa (terutama bagi saya).
Kemarin-kemarin, kalau ada mata kuliah yang memang ngga pernah kuis, ya ngga pernah dibaca juga materinya. Ujung-ujungnya paling mentok dibaca saat menjelang UTS aja, dan yang jadi korban adalah matkul HKN (hukum keuangan negara). Pada saat menjelang UTS HKN, aku hanya tidur selama 2 jam karena materinya (yang ternyata) banyak banget. Sangat menyesal karena saat matkul tersebut aku juga jarang mendengarkan bahkan sampai pada tahap aku ngga mendengarkan materi-materi di pertemuan akhir. Boro-boro mendengarkan, buka slide aja bingung, sampai tanya, "ini slide pertemuan keberapa ya?"
Akhirnya dari 229 slides 79 slides ngga dipahami, boro-boro dipahami, dibaca aja engga.
Sedih, tapi setelah itu, ya udah, untuk pelajaran ke depannya saja.
Setelah akhirnya aku merantau dan bertemu dengan teman-teman dari seluruh Indonesia, aku sadar bahwa aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka. Teman-temanku yang aktif banget, mereka yang mudah sekali menangkap materi dosen, mereka yang penasaran dan haus akan materi tersebut, selalu punya pertanyaan-pertanyaan yang got me like, "bisa ya kepikiran tanya begitu." Mereka yang sudah paham banget sama materi lalu setelah itu bisa men-transfer ilmunya kepada aku dan teman-teman yang senasib denganku, atau yang nasibnya lebih mending dariku.
Karena setelah UTS, aku merasa selama 8 pertemuan dari semua matkul yang dipelajari, rohku ini ngga tahu berkelana ke mana, karena dirasa semua matkulnya susah.
Haha kok sedih amat sih ini hidup.
Tapi dari pengalaman ini, bahkan dari pengalaman pertamaku merantau, aku belajar banyak.
Dari bagaimana aku menghemat uang, terutama kalau jajan dan makan. Makan cuma 2 kali sehari, antara jam 9 sampai jam 10 dan antara jam 4 sampai sebelum maghrib. Sebenarnya ngga sehat, tapi demi keadaan uang jajan yang lebih sejahtera, ternyata cara seperti itu efektif juga.
Pelajaran utama yang aku dapat adalah belajar untuk selalu merasa kurang akan ilmu. Aku kuliah di tempat di mana mahasiswanya disaring dengan proses yang ketat, kebayang gimana yang diterima di sini juga pasti pintar-pintar (ngga tahu kalau aku-_-) jadi mau ngga mau harus belajar keras, apalagi dibayang-bayangi dengan ancaman drop out bila nilai ngga memenuhi standar yang ditetapkan oleh lembaga, membuat aku kelabakan setelah UTS benar-benar selesai. Akhirnya aku merasa bahwa diri ini ngga ada apa-apanya dan merasa ada di titik apa yang selama ini dipelajari ngga cukup untuk membuat kapasitas diriku menjadi lebih baik. Akhirnya pelajaran yang aku dapat adalah kita harus selalu merasa bahwa belajar itu bisa setiap saat, belajar itu bisa di mana saja, belajar adalah memang keharusan dan harus punya mindset haus akan belajar dan haus akan ilmu. Bahwa belajar itu bisa dengan siapa saja, denganmu, ataupun tanpa kamu, aku harus tetap berjuang belajar (hahaha sampah banget, ini cuma bercanda kok).
Karena bagi aku sendiri secara pribadi, merasa fakir atau miskin akan ilmu adalah sebuah anugrah. Karena kita sadar bahwa ilmu yang sudah kita pelajari belum cukup agar kita paham tentang semua bagian dari ilmu tersebut. Mungkin kita belajar banyak, tapi mungkin kita belum belajar seluruhnya. Mungkin kita sudah belajar seluruhnya, tapi yang namanya ilmu, ia pasti selalu berkembang, selalu ada hal-hal baru dalam ilmu tersebut.
Ketika kita tidak merasa fakir akan ilmu, aku secara pribadi takut. Takut sekali bahwa diri ini akan menjadi ujub atau merasa bahwa diri kita punya suatu kelebihan dan kelebihan itu tidak dimiliki oleh orang lain sehingga kita tanpa sadar tidak ingin diri kita berkembang. Merasa sudah pintar dan akhirnya ngga mau belajar lebih. Merasa sudah bisa akan suatu hal, tapi lalai akan hal lain yang justru sama penting atau lebih penting dari hal tersebut.
Ternyata benar tentang apa kata dosen statistika, kosongkan bejana sebelum memulai sesuatu. Karena kalau wadah kita sudah penuh maka apa yang akan dimasukkan ke wadah tersebut tidak akan masuk dan terbuang sia-sia. Selalu merasa kurang akan ilmu, selalu merasa haus akan ilmu agar tidak ada ilmu baru yang justru luber keluar dari bejana kita.
Ada yang paham dengan apa yang aku tulis, kan? Hahaha :") Please satu orang aja paham maksa
Udah dulu deh sesi ngobrol ngalor-ngidulnya, semoga bermanfaat untuk para pembaca dan untuk aku sendiri yang membuat tulisan ini. Mari kita sama-sama belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi : )
Bintaro, 13 November 2017
Salam hangat,
Zita
Suka banget sama kata-kata terakhir tentang fakir ilmu. Ditunggu next postnya yaa
ReplyDeleteBig thanks sudah mampir, itu kata2 dosenku btw ehe :)
Delete