Skip to main content

Posts

gracias

Dari: Rifdani Z. Untuk: R. Zitananda Zita, terima kasih. Telah menjadi seseorang yang lebih kuat dari dirimu yang sebelumnya, yang telah bisa mematahkan stereotip bahwa wanita tetap harus memiliki pendamping dalam setiap perjalanannya. Untukmu yang telah berjalan dan berlari di atas kakimu sendiri, bertanggung jawab atas segala resiko atas pilihanmu. Menjalani segala proses pendewasaan diri dengan tidak mudah. Lelah memang, ingin menyerah rasanya, tapi kamu selalu dan senantiasa mengingatkan dirimu sendiri, “Kalau bukan aku sendiri, terus siapa lagi?” Terima kasih karena akhirnya bisa memberikan diriku kesempatan untuk bisa melihat dunia dengan kacamata yang berbeda. Mendapati banyak segala hal berbeda yang sejatinya tidak perlu untuk kamu cela dan kritik, namun cukup untuk mengerti dan menerima. Terima kasih untuk tetap berjalan dengan segala prinsip yang kamu pilih. Terima kasih untuk membiarkan aku bisa berteman dan berkenalan dengan siapa saja tanpa memandang agama...

Pulang

Pulogadung, 31 Agustus 2018 Woh ini blog udah usang banget pasti. Berapa bulan aku ngga ngeblog ya? Genap 3 bulan kayaknya karena berhubung ini tanggal 31 Agustus dan terakhir aku post tulisan terakhirku adalah tanggal 1 Juni kemarin. Sudah banyak berdebu dan pasti kotoran menjijikkan lainnya. Semoga ngga dijaga sama benda ataupun makhluk ghaib lainnya. Seminggu yang lalu aku baru saja pulang. Pulang. Ke. Rumah. Jumat malam berangkat dari Jakarta lalu Minggu siangnya langsung balik lagi ke Jakarta. Banyak yang bilang, "Ngapain sih pulang? Hanya tiga hari, itupun juga ngga full tiga hari." Tapi aku diemin aja, atau ngga balas dengan bercandaan karena saat kuliah semester 1 pun aku juga sering sekali pulang, hampir sebulan sekali aku pulang, hanya saja karena semester 2 aku kuliah dari hari Senin sampai hari Sabtu, kesempatan untuk pulang itu minim sekali atau bahkan tidak ada sama sekali. Buatku ngga ada kata tanggung untuk bertemu dengan keluarga. Ngga ada wak...

Legowo

Bintaro, 1 Juni 2018 Kehidupan perkuliahanku ngga pernah lepas dari yang namanya berlayar dari satu tugas ke tugas yang lain, presentasi, kuis dadakan, mau kuliah ngga dapet ruangan, udah lari-lari dikirain bakal telat tapi ternyata dosen malah belom dateng dan part yang paling ngeselin adalah kuliah jam 7 tapi jam 6 belum mandi dan masih goler-goler di kasur sampe jam 6.30 dan merasa diambang kebimbangan antara apakah mandi dulu, bab dulu, atau langsung cus ke kampus tanpa mandi. Gila. Ada yang ngga beres sama ini badan. Dan yang mengoperasikan ini badan tentunya. Perubahan pertama yang aku rasakan begitu hampir setahun merantau di Jakarta (Plis Bintaro kan mepet Jakarta, jadi anggep aja Bintaro masih bagian dari Jakarta, wakau sebenernya engga) adalah jadi seneng ngomong lu-gua bahkan sama temen se-organda sendiri. Gua aja heran. Nah lo. Keluar kan lu-gua nya hahaha. Lalu selama berbulan-bulan aku ngga publish tulisan di blog adalah karena salah satunya aku in...

Fakir Ilmu

Assalamualaikum teman-teman. Wah sudah lama sekali aku ngga menulis di sini. Ayo kita  bersama-sama bersih-bersih blog yang berdebu dan penuh jamur ini hehehe. Sepertinya di postingan sebelumnya tentang Balada Mimpi-mimpi Zita (buat teman-teman yang belum baca, bisa baca  di sini ya) aku sudah berjanji (ngga berjanji juga sih, tapi kalau sempat untuk menulis aja hahaha) untuk menuliskan tentang pengalamanku mengikuti salah satu pendaftaran salah satu perguruan tinggi kedinasan, yaitu USM PKN STAN. Nah, setelah balada-balada USM yang katanya susah dan ternyata setelah dijalani ternyata memang susah, karena waktu itu daftar USM murni karena disuruh oleh orang tua, jadi daftar aja dan yaudah belajar dalam waktu yang mepet banget (hahaha ngga nyambung sama konteks sebelumnya ya). Bilangnya buat jaga-jaga kalau memang mutlak ngga diterima di PTN (atau PTS). Tapi nyatanya, daftar USM PKN STAN aja dari awal sudah butuh perjuangan dan sudah bikin capek, pemirsa. ...

Balada Mimpi-mimpi Zita

Sekitar sebulan yang lalu akhirnya aku resmi lulus SMA. Rasanya? Wah, senang, sedih, terharu semuanya campur jadi satu. Kegembiraan untuk akhirnya akan  menjadi mahasiswa, kata “maha” yang berarti aku sudah harus bisa lebih baik daripada menjadi siswa, dan yang berarti adalah tingkat tertinggi dari menjadi siswa. Sedih? Aku cukup sedih Karena harus meninggalkan teman-teman, sekolah yang aku entah kenapa nggga pernah bosan untuk berada di sana, 12 tahun sekolah di bawah yayasan yang sama, dari SD-SMA yang sebenarnya ya teman-temannya kebanyakan ya itu-itu saja, tapi aku ngga pernah bosan! Guru-guru yang baik, mereka yang sangat pengertian dan kadang iklas untuk direse-in, ngga tahu lagi akan menemukan guru seperti mereka di mana lagi. Terharu? Wah, ngga bisa dibayangin, kelas 12 men, kami yang istilahnya dispesialkan, diistimewakan dan mungkin yang paling banyak memenuhi pikiran guru-guru, digenjot habis-habisan, diforsir tenaga, jam tidur, otak, dan uang jajannya untuk mengikuti ...

Buang Rasa Minder | Beropini #2

Minder. Beh, dari judulnya aja udah langsung ketahuan postingan kali ini mau bahas apa. Sebernarnya kali ini aku mau curhat aja sih, karena baru inget kalau sebenarnya hal ini sendiri udah sering banget dibahas ataupun di up sama aku dan teman-teman, kemudian aku baru ingat kalau aku punya blog yang di mana sampai saat ini aku gunakan untuk menulis dan menuangkan unek-unek apapun, jadi mostly postingan kali ini lebih ke opini dan curhatanku tentang minder. Setelah dicari-cari, minder itu sendiri setelah aku simpulkan adalah keadaan di mana kita merasa tidak lebih baik dari orang lain dan hal tersebut bisa menyebabkan seseorang sulit untuk mengembangkan dirinya.  Kalau mau dikilas balik lagi ke belakang, dulu aku sering banget merasa minder. Minder kalau aku memilih sesuatu yang berbeda dari orang lain, seperti aku sendiri memilih opsi A dan orang lain mostly memilih opsi B. Aku minder dan merasa ngga cukup capable pada saat pertama kali di kelas 10 aku ikut seleksi un...

Being A Woman with Hijab | Beropini #1

Akhir-akhir ini televisi ngga ada habis-habisnya menayangkan berita-berita yang rasanya bikin pengin elus dada terus untuk bersabar. Termasuk internet juga. Headline-headline yang sebenarnya kalau kita kaji lagi pun justru it doesn't make us proud to be the part of this country (maybe, cause it's just my opinion so it can be right or wrong). Mulai dari isu politik yang (lagi-lagi) tidak ada habisnya, masalah sosial, sampai dunia entertainment yang memang lagi sedap-sedapnya menyuapi society kita yang kita sendiri sebagai penikmat berita nggak tahu kebenaran dari berita-berita tersebut. Ups, padahal bahasan kali ini bukan tentang itu. Lanjut move on aja, yuk. Semenjak masuk SMA ini, dan bahkan sampai senior year sekalipun, ada banyak hal yang berubah secara signifikan dari apa yang terjadi dari masa aku sebelum seperti ini. Dari cara berpikir, bertindak, membuat keputusan sampai cara bermuhasabah sekalipun, semuanya sudah beda. Banyak faktor yang jelas mempengaruhi dari...