Minder.
Beh, dari judulnya aja udah langsung ketahuan postingan kali ini mau bahas apa. Sebernarnya kali ini aku mau curhat aja sih, karena baru inget kalau sebenarnya hal ini sendiri udah sering banget dibahas ataupun di up sama aku dan teman-teman, kemudian aku baru ingat kalau aku punya blog yang di mana sampai saat ini aku gunakan untuk menulis dan menuangkan unek-unek apapun, jadi mostly postingan kali ini lebih ke opini dan curhatanku tentang minder.
Setelah dicari-cari, minder itu sendiri setelah aku simpulkan adalah keadaan di mana kita merasa tidak lebih baik dari orang lain dan hal tersebut bisa menyebabkan seseorang sulit untuk mengembangkan dirinya.
Kalau mau dikilas balik lagi ke belakang, dulu aku sering banget merasa minder. Minder kalau aku memilih sesuatu yang berbeda dari orang lain, seperti aku sendiri memilih opsi A dan orang lain mostly memilih opsi B. Aku minder dan merasa ngga cukup capable pada saat pertama kali di kelas 10 aku ikut seleksi untuk debat bahasa Inggris karena teman-teman yang lain punya opini yang lebih baik dan lebih bagus daripada opini yang aku buat. Alhasil aku ngga lolos dan setelah itu hanya ikut kelompok bahasa inggris tapi khusus yang writing aja. Kemudian aku minder pada saat pertama kali ikut seleksi untuk menjadi pengurus OSIS karena ya alasan tadi, teman-teman yang lain punya kemampuan yang lebih baik dan rasa percaya diri yang lebih tinggi daripada aku.
Alhasil, dalam setiap ada kesempatan, aku selalu menimbang-nimbang apa yang akan aku lakukan. Aku selalu menitiberatkan konsekuensi terburuk apabila aku mengikuti suatu kegiatan. Alhasil aku end up selalu ngga jadi mengambil peluang tersebut. Karena aku minder. Merasa tidak cukup baik daripada orang lain.
Dan kalau di kilas balik lagi, UN tahun ini kan selain ada bidang yang wajib, juga ada bidang yang kita bebas pilih. Karena aku anak IPS, alhasil aku dibebaskan untuk memilih antara ekonomi, sosiologi ataupun geografi. Nah, rasa minderku mulai tumbuh lagi dalam keadaan seperti ini. Waktu itu aku langsung mencoret ekonomi dari list, karena selama 3 tahun belajar ekonomi, i got almost nothing karena aku merasa kayak nyesel banget belajar capek-capek 3 tahun tapi mudeng akuntansi aja ngga. Jangankan akuntasi, debit kredit aja baru paham pada saat menjelang USBN. Menderita bangetnya adalah saat malam harinya belajar ekonomi, tapi mostly aku ngga kenal semua materinya. Aku pada saat itu merasa bodoh banget, bego banget, temen-temen udah maju dengan berlembar-lembar soal, sedangkan aku masih stuck pada soal nomor pertama.
Terus geografi. Pertamanya aku memilih geografi, tapi karena ada desas-desus bahwa pelajaran yang dipilih saat UN harus sejalur dengan jurusan yang akan diambil pada SNMPTN (walaupun akhirnya ngga jadi), akirnya aku ngga jadi memilih geografi sebagai mapel pilihan pada saat UN. Karena aku memilih hukum, akhirnya aku ambil mapel sosiologi yang dirasa selaras dengan jurusan yang akan aku ambil di perkuliahan nanti dan alhamdulillah tetap istiqomah sampai UN berakhir aku tetap ambil sosiologi. Walaupun aku bukan murid yang direkomendasikan untuk memilih sosiologi, mau ngga mau pada saat itu tetap ambil sosiologi untuk jaga-jaga buat snm. Padahal kita sendiri ngga tahu bagaimana penilaian snm karena memang ngga pernah dipublikasikan cara penilaiannya.
Terus geografi. Pertamanya aku memilih geografi, tapi karena ada desas-desus bahwa pelajaran yang dipilih saat UN harus sejalur dengan jurusan yang akan diambil pada SNMPTN (walaupun akhirnya ngga jadi), akirnya aku ngga jadi memilih geografi sebagai mapel pilihan pada saat UN. Karena aku memilih hukum, akhirnya aku ambil mapel sosiologi yang dirasa selaras dengan jurusan yang akan aku ambil di perkuliahan nanti dan alhamdulillah tetap istiqomah sampai UN berakhir aku tetap ambil sosiologi. Walaupun aku bukan murid yang direkomendasikan untuk memilih sosiologi, mau ngga mau pada saat itu tetap ambil sosiologi untuk jaga-jaga buat snm. Padahal kita sendiri ngga tahu bagaimana penilaian snm karena memang ngga pernah dipublikasikan cara penilaiannya.
Terus, setelah USBN selesai, UN berakhir, dan pengumuman SNMPTN clear, akhirnya aku membuat sebuah pemikiran bahwa sia-sia banget kalau kita memelihara rasa minder karena akan berpengaruh sama rasa percaya diri kita. Keadaaan di mana kita merasa ngga capable dalam mengerjakan sesuatu akan membuat kita ngga pede dalam membuat suatu keputusan atau memilih sebuah pilihan. Minder pada saat itu membuat aku punya mindset "ngga bisa" dan "susah" dalam hidupku. Membuat aku merasa bahwa aku ngga perlu melakukan hal-hal yang sebenarnya mengasah diri aku menjadi lebih baik. Dan hal tersebut membuat aku bertanya-tanya sendiri, "zit, emang lu sebegitu buruknya ya? sampe lu sendiri aja nggak pede untuk menonjolkan diri lu yang sebenarnya? Sampe lu sendiri aja men-underestimate diri lu sendiri. Gimana lu mau membuat orang lain percaya sama lu kalau lu sendiri aja ngga percaya sama diri sendiri". Kayak saat aku milih UNDIP untuk SNM dan mostly teman-temanku pilih universitas yang lain (dan mostly temen-temenku milih UNSOED karena di dalam kota sendiri dan sudah banyak alumni yang berkuliah di UNSOED), alhasil aku minder, merasa ngga capable untuk di UNDIP, merasa aku kurang pintar, nilaiku kurang bagus, dan merasa diriku ini sombong banget. Nilai ngga seberapa tapi berharap keterima di univ gede. Akhirnya aku men-underestimate diri sendiri padahal setelah pengumuman SNM, itu semua ngga perlu. Cuma buang-buang waktu dan tenaga.
Lalu akhirnya aku berpikir, sebenarnya bisa loh aku paham pelajaran ekonomi dari dulu. Tapi hanya karena aku minder ataupun meremehkan diri sendiri, aku pun kewalahan dan merasa susah dalam mempelajarinya. Karena pada ujungnya, USBN ekonomi pun aku tetap bisa mengerjakan walau memang ada nomor-nomor yang aku bingung harus jawab apa. Atau sebenarnya bisa loh, aku menguasai panggung atau dari dulu nyanyi dan bermain musik di hadapan banyak orang (ngga hanya di internet aja) kalau aku ngga meremehkan diri sendiri. Kalau aku ngga merasa bahwa diriku sebegitu buruknya di mata orang lain.
Atau nggak, bisa loh, sebenarnya aku menambah lebih banyak teman, membuka jaringan seluas-luasnya dan melebarkan tali silaturrahim ke sana ke mari, tapi cuma karena minder, aku selalu berikir ulang. Berpikir terus menerus akan konsekuensi apa yang akan diperoleh. At the end, yep, I do nothing. I do nothing even it actually makes me better in personality. Padahal embel-embel tujuan hidupku sendiri ya bisa bermanfaat untuk orang lain. Pantes aja sejak saat itu i don't deserve what i think about my self.
Lalu, poin-poin yang aku dapat adalah sebenarnya simpel. Jangan minder. Jangan men-underestimate diri sendiri. Karena sejujurnya, memelihara rasa minder itu sendiri adalah bad habit yang akan mempengaruhi kualitas diri kita sendiri. Seperti yang sudah aku simpulkan dari internet bahwa minder akan menghambat diri kita sendiri untuk berkembang. Allah pasti mengirimkan kita ke dunia, menciptakan kita sampai detik ini untuk masih bisa beraktivitas dan bangun di setiap paginya, juga pasti menitipkan skill ataupun 1 poin yang membuat kita berbeda dari orang lain. Kita hanya tinggal percaya, tinggal mengasah kemampuan kita, dan percaya sama diri sendiri. Jangan merasa ngga pede. Jangan merasa kita tertinggal dari orang lain (dulu aku sering banget begini) karena nanti kita sendiri yang ujung-ujungnya akan grusa-grusu atau berantakan sendiri (someone tell me if i get it wrong). Boleh mengeluh, asal terus narget. Tetap mengayuh walau pelan-pelan. Kita nggak akan jadi lebih buruk dari orang lain kalau kita tidak secepat mereka, kok. Kalau ada orang-orang yang membicarakan hal negatif tentang diri kita, but they tell us not in a good way, please langsung tutup kuping kemudian buang muka dan yang terpenting adalah keep moving on.
semoga bermanfaat,
zita
👍👍👍
ReplyDelete👍👍👍
ReplyDeletePanutanq 😁
ReplyDeleteBrisik kwe wkwk
Delete