Skip to main content

Buang Rasa Minder | Beropini #2

Minder.

Beh, dari judulnya aja udah langsung ketahuan postingan kali ini mau bahas apa. Sebernarnya kali ini aku mau curhat aja sih, karena baru inget kalau sebenarnya hal ini sendiri udah sering banget dibahas ataupun di up sama aku dan teman-teman, kemudian aku baru ingat kalau aku punya blog yang di mana sampai saat ini aku gunakan untuk menulis dan menuangkan unek-unek apapun, jadi mostly postingan kali ini lebih ke opini dan curhatanku tentang minder.

Setelah dicari-cari, minder itu sendiri setelah aku simpulkan adalah keadaan di mana kita merasa tidak lebih baik dari orang lain dan hal tersebut bisa menyebabkan seseorang sulit untuk mengembangkan dirinya. 

Kalau mau dikilas balik lagi ke belakang, dulu aku sering banget merasa minder. Minder kalau aku memilih sesuatu yang berbeda dari orang lain, seperti aku sendiri memilih opsi A dan orang lain mostly memilih opsi B. Aku minder dan merasa ngga cukup capable pada saat pertama kali di kelas 10 aku ikut seleksi untuk debat bahasa Inggris karena teman-teman yang lain punya opini yang lebih baik dan lebih bagus daripada opini yang aku buat. Alhasil aku ngga lolos dan setelah itu hanya ikut kelompok bahasa inggris tapi khusus yang writing aja. Kemudian aku minder pada saat pertama kali ikut seleksi untuk menjadi pengurus OSIS karena ya alasan tadi, teman-teman yang lain punya kemampuan yang lebih baik dan rasa percaya diri yang lebih tinggi daripada aku.

Alhasil, dalam setiap ada kesempatan, aku selalu menimbang-nimbang apa yang akan aku lakukan. Aku selalu menitiberatkan konsekuensi terburuk apabila aku mengikuti suatu kegiatan. Alhasil aku end up selalu ngga jadi mengambil peluang tersebut. Karena aku minder. Merasa tidak cukup baik daripada orang lain.

Dan kalau di kilas balik lagi, UN tahun ini kan selain ada bidang yang wajib, juga ada bidang yang kita bebas pilih. Karena aku anak IPS, alhasil aku dibebaskan untuk memilih antara ekonomi, sosiologi ataupun geografi. Nah, rasa minderku mulai tumbuh lagi dalam keadaan seperti ini. Waktu itu aku langsung mencoret ekonomi dari list, karena selama 3 tahun belajar ekonomi, i got almost nothing karena aku merasa kayak nyesel banget belajar capek-capek 3 tahun tapi mudeng akuntansi aja ngga. Jangankan akuntasi, debit kredit aja baru paham pada saat menjelang USBN. Menderita bangetnya adalah saat malam harinya belajar ekonomi, tapi mostly aku ngga kenal semua materinya. Aku pada saat itu merasa bodoh banget, bego banget, temen-temen udah maju dengan berlembar-lembar soal, sedangkan aku masih stuck pada soal nomor pertama. 

Terus geografi. Pertamanya aku memilih geografi, tapi karena ada desas-desus bahwa pelajaran yang dipilih saat UN harus sejalur dengan jurusan yang akan diambil pada SNMPTN (walaupun akhirnya ngga jadi), akirnya aku ngga jadi memilih geografi sebagai mapel pilihan pada saat UN. Karena aku memilih hukum, akhirnya aku ambil mapel sosiologi yang dirasa selaras dengan jurusan yang akan aku ambil di perkuliahan nanti dan alhamdulillah tetap istiqomah sampai UN berakhir aku tetap ambil sosiologi. Walaupun aku bukan murid yang direkomendasikan untuk memilih sosiologi, mau ngga mau pada saat itu tetap ambil sosiologi untuk jaga-jaga buat snm. Padahal kita sendiri ngga tahu bagaimana penilaian snm karena memang ngga pernah dipublikasikan cara penilaiannya.

Terus, setelah USBN selesai, UN berakhir, dan pengumuman SNMPTN clear, akhirnya aku membuat sebuah pemikiran bahwa sia-sia banget kalau  kita memelihara rasa minder karena akan berpengaruh sama rasa percaya diri kita. Keadaaan di mana kita merasa ngga capable dalam mengerjakan sesuatu akan membuat  kita ngga pede dalam membuat suatu keputusan atau memilih sebuah pilihan. Minder pada saat itu membuat aku punya mindset "ngga bisa" dan "susah" dalam hidupku. Membuat aku merasa bahwa aku ngga perlu melakukan hal-hal yang sebenarnya mengasah diri aku menjadi lebih baik. Dan hal tersebut membuat aku bertanya-tanya sendiri, "zit, emang lu sebegitu buruknya ya? sampe lu sendiri aja nggak pede untuk menonjolkan diri lu yang sebenarnya? Sampe lu sendiri aja men-underestimate diri lu sendiri. Gimana lu mau membuat orang lain percaya sama lu kalau lu sendiri aja ngga percaya sama diri sendiri". Kayak saat aku milih UNDIP untuk SNM dan mostly teman-temanku pilih universitas yang lain (dan mostly temen-temenku milih UNSOED karena di dalam kota sendiri dan sudah banyak alumni yang berkuliah di UNSOED), alhasil aku minder, merasa ngga capable untuk di UNDIP, merasa aku kurang pintar, nilaiku kurang bagus, dan merasa diriku ini sombong banget. Nilai ngga seberapa tapi berharap keterima di univ gede. Akhirnya aku men-underestimate diri sendiri padahal setelah pengumuman SNM, itu semua ngga perlu. Cuma buang-buang waktu dan tenaga. 

Lalu akhirnya aku berpikir, sebenarnya bisa loh aku paham pelajaran ekonomi dari dulu. Tapi hanya karena aku minder ataupun meremehkan diri sendiri, aku pun kewalahan dan merasa susah dalam mempelajarinya. Karena pada ujungnya, USBN ekonomi pun aku tetap bisa mengerjakan walau memang ada nomor-nomor yang aku bingung harus jawab apa. Atau sebenarnya bisa loh, aku menguasai panggung atau dari dulu nyanyi dan bermain musik di hadapan banyak orang (ngga hanya di internet aja) kalau aku ngga meremehkan diri sendiri. Kalau aku ngga merasa bahwa diriku sebegitu buruknya di mata orang lain.

Atau nggak, bisa loh, sebenarnya aku menambah lebih banyak teman, membuka jaringan seluas-luasnya dan melebarkan tali silaturrahim ke sana ke mari, tapi cuma karena minder, aku selalu berikir ulang. Berpikir terus menerus akan konsekuensi apa yang akan diperoleh. At the end, yep, I do nothing. I do nothing even it actually makes me better in personality. Padahal embel-embel tujuan hidupku sendiri ya bisa bermanfaat untuk orang lain. Pantes aja sejak saat itu i don't deserve what i think about my self. 

Lalu, poin-poin yang aku dapat adalah sebenarnya simpel. Jangan minder. Jangan men-underestimate diri sendiri. Karena sejujurnya, memelihara rasa minder itu sendiri adalah bad habit yang akan mempengaruhi kualitas diri kita sendiri. Seperti yang sudah aku simpulkan dari internet bahwa minder akan menghambat diri kita sendiri untuk berkembang. Allah pasti mengirimkan kita ke dunia, menciptakan kita sampai detik ini untuk masih bisa beraktivitas dan bangun di setiap paginya, juga pasti menitipkan skill ataupun 1 poin yang membuat kita berbeda dari orang lain. Kita hanya tinggal percaya, tinggal mengasah kemampuan kita, dan percaya sama diri sendiri. Jangan merasa ngga pede. Jangan merasa kita tertinggal dari orang lain (dulu aku sering banget begini) karena nanti kita sendiri yang ujung-ujungnya akan grusa-grusu atau berantakan sendiri (someone tell me if i get it wrong). Boleh mengeluh, asal terus narget. Tetap mengayuh walau pelan-pelan. Kita nggak akan jadi lebih buruk dari orang lain kalau kita tidak secepat mereka, kok. Kalau ada orang-orang yang membicarakan hal negatif tentang diri kita, but they tell us not in a good way, please langsung tutup kuping kemudian buang muka dan yang terpenting adalah keep moving on.






semoga bermanfaat,
zita



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

What a Year Has Taught Me

At the first time when I taught about what happiness means, it always gonna be, "It would be really amazing when things always go right." not because it's just always happiness that we feel, not always a blooming flowers that we see from afar, or just a warm jasmine tea that we always drink when it's a fully rainy day. When it comes to the time when I think about what happiness means, I always get a different meaning and perspectives.  When it came to my arrival at home in the last October, I was very ready to go back to my childhood memory, to go every side of this small city, to feel the breeze in the morning and every evening, to go to every places that has already been part of my childhood memories. Memorizing and reminiscing the feel when it comes to laugh hard with old friends, when it goes to do gardening with mom and harvesting her plants also comes to go a long night ride with my father. At that time, what happiness means to me was redoing every part of my ch...

Terus Belajar

Pengalaman adalah guru terbaik Alhamdulillah tanggal 14-16 Maret 2016 kemarin kami semua sukses mengadakan acara PLM yang memang dirancang sebagai program khusus tahunan. Kalau dipikir-pikir acara-acara seperti ini harusnya dilakukan tiap hari saja //HMMM// agar lelah itu bisa terasa sangat menyenangkan. Karena seperti aku, anak yang lebih suka bermain di luar, ketika tiba-tiba disuruh belajar di dalam ruangan tanpa camilan dan mainan kemudian hanya diberi buku dan soal latihan, lebih baik duduk selonjoran sambil mendengarkan lagunya Ed Sheeran. Yang ada bukannya selesai belajar, malah lebih cepat tertidur pulas (Tapi lagu-lagu Ed Sheeran overall favoritku semua kok). Jadi, seperti postingan PLM tahun lalu (yang belum baca bisa cek di sini ya  http://zitarifdani.blogspot.co.id/2015/03/that-i-had-best-day.html  ) acara PLM tahun ini juga alhamdulillah masih tetap sama, ada SMAIT Mengajar, sembako murah (atau gratis ya?), memasak, bazar pakaian pantas ...

I Had The Best Day

Jadi, tanggal 9 sampai 11 Maret 2015 kemarin di Karangrau Banyumas, tepatnya hari Senin sampai Rabu, aku dan teman-teman kelas 10 dan kelas 11 mengikuti kegiatan PLM atau singkatan dari Pengenalan Lingkungan Masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan pas kakak-kakak kelas 12 menjalani UAS (eh apa US ya?)(Bedanya apa toh? Aku nda ngerti). Karena di postingan sebelumnya aku belum mengorek sedikitpun tentang kegiatan ini, soalnya kan postingan kemarin aku bikin puisi galau gitu yang sebenarnya aku pun masih mikir apa sih manfaatnya? HAHA Anyone feel me. Tapi ngga apa-apa kok, kan namanya berkarya, dalam keadaan apapun aku selalu write them down, all of them, mau itu sedih, senang, atau pun flat. . . Jadi kembali lagi. . . Kalo postingannya dibuat berjeda-jeda bikin penasaran ngga . . Haha, jangan kzl ya . . Nah, ada beberapa kegiatan di acara PLM ini. Buat yang putri itu mengajar dan memasak, terus buat yang putra itu bangun rumah. Dan aku kebagian kegiatan me...